Rabu, 13 Agustus 2014

Pesugihan Monyet warung nasi

Waktu itu saudara saya, sebut saja Mas Hasan (bukan nama sebenarnya) punya rumah di daerah bogor, tapi karena kerjanya di jakarta dia pulang ke rumah seminggu sekali, sekedar mengetahui keadaan rumah dan sekalian bersih-bersih. Dan lagi anak istrinya tinggal di jakarta(rumah ibunya) 

Saya lupa agak lupa tanggal berapa yang pasti sekitar tahun lalu Mas Hasan  dan anaknya yang pertama Andi (bukan nama sebenarnya) pulang ke rumahya di bogor, dan pulangnya malam hari, karena perutnya juga sudah keronconagn dan Andi juga sudah teriak laper mampirlah Mas Hasan  di sebuah warung nasi uduk. 

Dengan kondisi laper makanlah Mas Hasan dan Andi, tanpa terasa Mas Hasan sudah menghabiskan 3 piring nasi uduk dan rasa ingin nambah masih saja ada, sedangkan si Andi pun sama, teriak minta tambah lagi sampai 5 piring. Menurut Mas Hasan sih warung itu biasa saja, tidak begitu bagus tetapi anehnya pembelinya banyak sekali sampai ngantri hingga jalan raya.

Akhirnya Mas Hasan dan Andi pulang dengan perasaan masih lapar, entah kenapa semenjak ke warung nasi uduk itu, si Andi  selalu minta di belikan nasi uduk dan tidak mau nasi uduk di tempat lain, maunya di warung itu saja.

Berminggu-minggu hingga bulan tidak tahu apa enaknya, tapi herannya ada saja yang beli, dan selalu ramai pembli. Tapi ada juga yang dibawa pulang (di bungkus dan dimakan dirumah), anehnya kalau makan di rumah nasinya tidak enak.

Hingga suatu ketika hal ini terdengar ke guru mengaji Mas Hasan.

Beberapa kali saya mau di ajak oleh Mas Hasan ke warung itu,  tetapi entah kenapa saya selalu menolaknya, mungkin karena saya sendiri kurang suka santan.  Andi  semakin berubah, setiap makan di rumah seperti orang yang rakus akan makanan, sampai-sampai nasi 1 magicjar di lahapnya.  Hingga suatu hari  guru ngajinya menegur: "apakah kamu pernah makan  di sebuah rumah makan?"  Mas Hasan, menjawab "Tidak" sambil terus berpikir. Dia sendiri tidak menyadari kalau dia pernah makan nasi uduk di sebuah warung.

Akhirnya waktu pada suatu malam, saat Mas Hasan mengaji, sang guru yang merasakan keanehan pada perilaku makan Andi, mencoba menerawang tanpa memberi tahu Mas hasan. Setelah selesai pengajian barulah Sang guru memberi tahu bahwa ada sesuatu yang tidak kasat mata yang selalu mengikuti Andi, dan dari situlah diketahui bahwa warung nasi yang pernah didatangi Mas Hasan menggunakan mahkluk gaib siluman monyet, di mana setiap orang yang berkunjung  memakan nasi uduk itu pasti lahap dan rakus sehingga tidak merasa kenyang biar pun sudah makan 10 piring.

Tetapi Mas Hasan masih tidak  percaya, malam itu juga Mas Hasan di buka mata batinnya oleh sang Guru ngaji, dan di ajak pergi ke warung tersebut.  Sesampainya di sana alangkah terkejutnya Mas Hasan, dia melihat dengan mata kepala sendiri, penampakan di dalam warung tersebut ada puluhan monyet, dengan mata yang menyala merah dan taring yang runcing, sedang  bergelayutan di punggung setiap pembeli yang makan nasi. Dan nasi yang di sajikan pun bukan nasi asli yang sebelumnya dia lihat tetapi  nasi basi yang kering dan sudah berjamur serta kutu-kutu  kecil yang bertebaran.

Sesampainya di rumah si Andi di beri segelas air putih oleh guru Ngaji, dan Alhamdulillah, makannya sudah kembali normal, tidak lagi rakus.

Sampai kisah ini di tulis, mas Hasan jadi enggan makan nasi uduk, entah trauma atau memang karena merasa takut kalau-kalau mengalami hal yang sama.

Semoga kisah ini dapat mengingatkan kita, agar lebih berhati-hati saat makan diluar rumah.
Waktu itu saudara saya, sebut saja Mas Hasan (bukan nama sebenarnya) punya rumah di daerah bogor, tapi karena kerjanya di jakarta dia pulang ke rumah seminggu sekali, sekedar mengetahui keadaan rumah dan sekalian bersih-bersih. Dan lagi anak istrinya tinggal di jakarta(rumah ibunya) Saya lupa agak lupa tanggal berapa yang pasti sekitar tahun lalu Mas Hasan dan anaknya yang pertama Andi (bukan nama sebenarnya) pulang ke rumahya di bogor, dan pulangnya malam hari, karena perutnya juga sudah keronconagn dan Andi juga sudah teriak laper mampirlah Mas Hasan di sebuah warung nasi uduk. Dengan kondisi laper makanlah Mas Hasan dan Andi, tanpa terasa Mas Hasan sudah menghabiskan 3 piring nasi uduk dan rasa ingin nambah masih saja ada, sedangkan si Andi pun sama, teriak minta tambah lagi sampai 5 piring. Menurut Mas Hasan sih warung itu biasa saja, tidak begitu bagus tetapi anehnya pembelinya banyak sekali sampai ngantri hingga jalan raya.www.infometafisik.com Akhirnya Mas Hasan dan Andi pulang dengan perasaan masih lapar, entah kenapa semenjak ke warung nasi uduk itu, si Andi selalu minta di belikan nasi uduk dan tidak mau nasi uduk di tempat lain, maunya di warung itu saja. Berminggu-minggu hingga bulan tidak tahu apa enaknya, tapi herannya ada saja yang beli, dan selalu ramai pembli. Tapi ada juga yang dibawa pulang (di bungkus dan dimakan dirumah), anehnya kalau makan di rumah nasinya tidak enak. Hingga suatu ketika hal ini terdengar ke guru mengaji Mas Hasan. Beberapa kali saya mau di ajak oleh Mas Hasan ke warung itu, tetapi entah kenapa saya selalu menolaknya, mungkin karena saya sendiri kurang suka santan. Andi semakin berubah, setiap makan di rumah seperti orang yang rakus akan makanan, sampai-sampai nasi 1 magicjar di lahapnya. Hingga suatu hari guru ngajinya menegur: "apakah kamu pernah makan di sebuah rumah makan?" Mas Hasan, menjawab "Tidak" sambil terus berpikir. Dia sendiri tidak menyadari kalau dia pernah makan nasi uduk di sebuah warung. Akhirnya waktu pada suatu malam, saat Mas Hasan mengaji, sang guru yang merasakan keanehan pada perilaku makan Andi, mencoba menerawang tanpa memberi tahu Mas hasan. Setelah selesai pengajian barulah Sang guru memberi tahu bahwa ada sesuatu yang tidak kasat mata yang selalu mengikuti Andi, dan dari situlah diketahui bahwa warung nasi yang pernah didatangi Mas Hasan menggunakan mahkluk gaib siluman monyet, di mana setiap orang yang berkunjung memakan nasi uduk itu pasti lahap dan rakus sehingga tidak merasa kenyang biar pun sudah makan 10 piring.www.infometafisik.com Tetapi Mas Hasan masih tidak percaya, malam itu juga Mas Hasan di buka mata batinnya oleh sang Guru ngaji, dan di ajak pergi ke warung tersebut. Sesampainya di sana alangkah terkejutnya Mas Hasan, dia melihat dengan mata kepala sendiri, penampakan di dalam warung tersebut ada puluhan monyet, dengan mata yang menyala merah dan taring yang runcing, sedang bergelayutan di punggung setiap pembeli yang makan nasi. Dan nasi yang di sajikan pun bukan nasi asli yang sebelumnya dia lihat tetapi nasi basi yang kering dan sudah berjamur serta kutu-kutu kecil yang bertebaran. Sesampainya di rumah si Andi di beri segelas air putih oleh guru Ngaji, dan Alhamdulillah, makannya sudah kembali normal, tidak lagi rakus. Sampai kisah ini di tulis, mas Hasan jadi enggan makan nasi uduk, entah trauma atau memang karena merasa takut kalau-kalau mengalami hal yang sama. Semoga kisah ini dapat mengingatkan kita, agar lebih berhati-hati saat makan diluar rumah.

Source: http://www.infometafisik.com/2013/12/kisah-mistis-pesugihan-kera-warung-nasi.html
Disalin dari WWW.INFOMETAFISIK.COM | konten ini memiliki hak cipta.

Cerita misteri di rumah kosong

Gw dan tmen2 gw emank super iseng, pengen tau, dan selalu tertarik sama hal2 yg aneh2. Tempat kumpul gw and anak2 yaitu disalah satu rumah temen gw, kbetulan tmen gw ini tinggal disitu sendiri nda sama orang tua. Cm kalo siang ada pembantu yg ngurusin and ngeberesin itu rumah. Jadi ya kami bner2 bebas and itu bner2 markas besar kami.

Sore itu kami lg asik, nyanyi2 di teras sambil nikmatin kopi dan asap rokok yg memenuhi ruangan. Gw akhirnya ngasih ide buat keluar sewa DVD serem dan kita tonton rame2. Wah mereka dgn antusias stuju dgn ide gw, kami semua pun segere menuju ke salah satu tempat penyewaan DVD di komplek tmen gw itu.

Singkat cerita, kami tonton DVD yg totalnya 4 buah tadi rame2. Filmnya emang bner2 serem, sampai nda terasa kok diluar udh malem aja yah. Abis nonton mendadak perut keroncongan, semua sepakat buat mie instan. Sambil makan kami cerita2 and ada salah satu tmen gw yg punya ide gila. Idenya yaitu buat nyeledikin sebuah rumah diujung komplek itu, rumah itu besar dan kosong nda terawat bnyk rumput2 liar dihalamannya, pagarnya ditutup seng tinggi yg buat bagian rumah itu nda terlihat jelas.Mikir2 sebentar, akhirnya kami stuju tuh mo coba nekat kerumah itu. Kami langsung berangkat, dgn bekal seadanya sebuah senter ditangan masing2. Saat itu itu malem kira2 jam 12an, suasana udh sepi dan karena itu emank diujung komplek. Clingak - clinguk, nda ada orang kami langsung terobos itu pager seng. Wow, rumahnya besar, tingkat 2 dan bner2 nda keurus, ternyata bkn cm dihalamannya aja, tp sampai kedalam rumah itu ada rumput liarnya.

Kami melangkah langsung menuju pintu masuk, atmosfir mendadak berubah mencekap, suasana gelap didalam ruangnya dan dinginnya malam itu ngebuat semua jadi makin angker.

"Gmn nih??" tanya tmen gw
"Ya gmn gmn.." jawab gw bingung
"Kita coba periksa aja satu2 kamar trus naik ke lantai atas" usul tmen gw
"Yuk deh, tp jgn smp pisah yah" jawab gw

Kamar yg pertama kami periksa letaknya paling depan, kamar itu kosong penuh dgn botol2 dan rumput yg tinggi2, cahaya bulan masuk dri jendela kamar yg udh bolong. Kami langsung menuju kamar sebelahnya, beda lg ini kamar gelap banget krn nda ada sdikit cahaya masuk dr ventilasi udara diatas. Gila orang buat kamar kok nda ada jendelannya gini yah?? apa ini bekas kamar mandi??

Brraaakk, suara pintu pagar seng didepan. Semua langsung panik ngumpet, bkn takut krn ada setan, tp takut kalo satpam sampe periksa2. Kami semua masuk kekamar gelap tadi, sampai akhirnya gw sadar kalo tmen gw ada yg ilang.

"Loh, kok kita cm ber3? mana sih A??" tanya gw
"Lah, mana tuh anak??" tanya tmen gw lagi
"Nyok cari deh" ajak gw tnang

Gw panggil2 nama tmen gw itu, tp nda ada balasan. Semua jadi makin panik, waduh kemana nih tmen gw. Kami semua coba mau ngecek kelantai atas, baru kami mau melangkah di tangga, tiba2..

BBBBBBBAAAAAAA !!!!!!!!!
Temen gw muncul dr kamar dked tangga, sambil pasang muka serem (bkn serem sih, tp muka nyolot kyk minta ditampol, saking bikin gw keselnya). Anak2 kaget bercampur emosi, langsung jitakin dia semua. Anjis bcanda lw kgk ada luchu2nya, ANJ*** !!!

Sambil ketawa2 gw kok tiba2 ngerasain hawa yg nda enak, teranyata bner. Ada yg ikut2 ketawa, bkn cm kami ajah. Suara ketawa khas "Tante Kun" menggema diruangnya itu, suaranya bner2 jelas dan rasanya berasal dr semua ruangan dsitu. Anak2 coba bersikap tenang, semua mundur pelan2 menuju pintu keluar.

Gw yg paling belakang, sempet ngerasa nda enak. Gw nda brani liat ke kamar2 yg ada disitu, ngeri ada yg nonggol. Eh ternyata bener, tp bkn dr kamar..ntah kenapa gw mendadak pengen bgt nengok kebelakang and apa yg gw liat?? yeah, "Tante Kun" lg ngambang tubuhnya panjang banget. Kepalanya hampir nyentuh dinding atas dan kakinya di anak tangga pertama. Spontan gw langsung kabur !! disusul tmen gw yg nda ngeliat tp krn ngeliat gw lari mreka ya ikut lari.

Huaahh, bner2 kek kebakaran jenggot. Ada tmen gw yg loncat dr jendela, dobrak pintu, sampe celanannya sobek gara2 nyangkut di pagar seng didepan. Setelah itu kami semua balik kerumah temen gw dan cerita2 sampai pagi.

Yeah itu pengalaman gw malam itu, keisengan yg kadang2 bawa sial.


source http://tinyurl.com/lt6qggo

Misteri Genderuwo diRumah Kosong

Misteri Genderuwo Rumah Kosong

Pagi itu kompleks perumahanku geger, empat remaja tanggung ditemukan meninggal over dosis, persis dirumah kosong yang ada disebelahku. Mereka pesta miras dan juga narkoba. Setelah Polisi datang, dan diadakan olah TKP mayat empat remaja itupun langsung dibawa ke RS. Bhayangkara untuk otopsi. Sebagai ketua RT diwilayah itu, kematian empat remaja tanggung tadi tentu menjadi beban berat tersendiri bagiku. Pertama, aku harus menemani bapak-bapak Polisi itu melakukan olah TKP, yang kedua harus mencari jati diri siapa sebetulnya empat remaja naas tadi (dan kemudian diketahui sebagai anak-anak jalanan binaan salah satu rumah singgah di kotaku) dan yang ketiga, ini yang paling berat membersihkan bekas-bekas kematian yang ada di rumah itu. Termasuk, bergotong royong dengan bapak-bapak satu komplek untuk membuka dan mencopoti genteng diatas, agar hawa mistisnya hilang. Setelah itu, standby menunggu komplain warga kalau-kalau terjadi hal-hal yang bersifat mistis seperti penampakan dan lain-lainnya.

Betul saja, sehari setelah kejadian bu Sarbini sudah mengadu bahwa pada malam setelah kejadian di rumah kosong yang masih ada garis Polisinya itu sudah terdengar suara-suara ketawa dan juga ribut-ribut seperti sedang ada pesta miras disitu, yang kemudian disusul dengan jeritan kesakitan. Belum sempat laporannya kutindaklanjuti, sudah datang bu Yuliono yang bercerita dengan versi yang hampir sama, cuma yang ini ditambahi dengan ketukan dipintu untuk minta tolong dan setelah dibukakan yang ada cuma kesunyian dan bau alcohol yang menusuk hidung.

Kejadian yang sama juga dialami dengan pak Ferry, yang malam itu entah kebetulan atau bagaimana ban sepeda motornya gembos. Karena pak sastro yang buka tambal ban diujung komplek sudah tutup, maka pak ferry terpaksa menuntun sepeda itu sampai ke rumah. Eh…tepat 100 meter sebelum rumah kosong itu beliau baru sadar kalau harus melewati rumah kosong yang jadi angker dalam beberapa hari ini. Tentu saja hatinya jadi kebat-kebit. Apalagi suasana komplekku pasca kejadian itu jadi sepi dan warga lebih suka ngendon dirumah (termasuk aku). Dan…betul ketika langkahnya sampai didepan rumah itu, terdengar suara ketawa cekakaan sahut-sahutan yang kemudian dilanjut suara botol dipecah, dan juga suara orang bersendawa keras sekali yang diakhiri dengan suara tangis yang menyayat hati. Setelah itu, pintu pager halamanku yang jadi sasaran “…pak RT…pak RT tolong pak “ katanya dengan suara yang terputus-putus. Mendengar suara pak ferry, aku yang habis sholat isya langsung bergegas kedepan, “ ada apa pak?” “bener pak RT, bener pak RT” katanya dengan nafas memburu. Segera kubuka pintu dan meminta pak Ferry masuk. Setelah meminum satu gelas aqua, pak ferry bisa bercerita dengan lebih runtut. “kok pulang malam-malam dari mana sih pak?” kataku basa basi. “anu pak RT, tadi mau beli bohlam, terus bannya bocor” ..”terus melawati rumah kosong itu ?” kataku menggoda, “ya…mau lewat mana lagi pak RT, jalannya kan cuma itu…ternyata betul lho pak RT, rumah itu berhantu” ‘ Masak pak ?!” “ saya sendiri juga heran kok pak RT, orang sudah meninggal kok bisa hidup lagi…suaranya itu lho pak RT” katanya sambil geleng-geleng kepala dan bergidik. Kami kemudian berdiam diri, setelah agak lama dan hatinya mulai tertata baik, pak ferry lalu pamit.

Giliran aku yang kemudian jadi pening, karena kalau hal ini berlarut-larut tentu akan mengganggu ketenteraman warga komplek. Melihat diriku yang galau, isteriku kemudian duduk dan memberikan saran, agar aku menemui pak Bono, ustadz sekaligus ahli ruqyah siapa tahu bisa memberikan solusi yang jitu. Paginya aku menemui pak Bono dan dari dirinya aku mendapat saran dan juga metode untuk mengatasi persoalan rumah kosong itu. Karena menurut ustadz Bono arwah yang sudah meninggal tidak mungkin bisa hidup lagi, apalagi sampai mengganggu seperti itu. “pak…itu bukan arwah gentayangan, tapi jin “ katanya pasti “dan jin yang berani masuk dalam dimensi manusia sebetulnya pada posisinya yang lemah” .

Mendengar pesan-pesannya itu hatiku tambah mantap, maka setelah lepas pukul 09.00, aku mengambil air wudlu dan mendirikan sholat hajat dua rokaat. Tanpa batal wudlu, aku segera mendatangi rumah kosong itu. Lewat jendela samping aku melihat lobang yang bisa aku gunakan untuk mengintip, suara-suara braokan itu terdengar cukup kencang. Astaghfirullah…dari lubang itu aku melihat dengan jelas yang sedang pesta miras itu bersosok seperti anaknya kingkong, besar dan berbulu. Hmmm ini yang bikin rusuh, ternyata mereka sebangsa genderuwo. Aku lalu mengumandangkan adzan. Seketika terdengar jeritan kesakitan, dan sambat tobat tidak kuat. Dengan berani kubuka paksa pintu butulan, mulutku tak henti-hentinya mengucap ayat-ayat qursi dengan dengung rendah sehingga hidungku bergetar, menurut ustadz bono dengan cara begitu doa-doa tadi memiliki daya penghancur yang lebih kuat, karena mampu menembus gelombang alpha dan tetha yang menjadi pintu masuk golongan jin dan setan mengganggu manusia. Ternyata betul terdengar suara keras seperti benda jatuh yang dibarengi dengan bau sangit, setelah itu…..cep. Sunyi.

Lampu senter enam baterei, kuyalakan sorotnya yang terang menembus suasana kelam di rumah kosong itu. Bau anyir dan bau alcohol sisa kejadian itu tercium sangat keras. Tiba-tiba terdengar suara gerengan yang luar biasa keras, arahnya dari ruang dapur. Mulutku kembali melantunkan ayat qursi yang kutambah dengan bacaan qulhu geni. Ternyata betul, didapur itu terlihat sosok seperti kingkong yang duduk melipat kaki, tubuhnya tinggi besar hampir menyentuh langit-langit, begitu terkena cahaya lampu senter. Kepalanya terangkat…Masya Allah , matanya merah menyala ukurannya sebesar piring makan, giginya meringis mememamerkan taringnya yang sebesar clurit ukuran besar. “hahh.. siapa kamu” mendengar bentakanku itu, kingkong itu berdiri tubuhnya jadi kelihatan sangat tinggi menembus plafon. Aku mundur berapa langkah. “ Aku…yang tunggu rumah ini” suaranya besar, mirip suara truk diesel yang sedang distater. “ini rumahnya manusia, kenapa kamu tempati “ “aku sudah bertempat tinggal disini jauh sebelum rumah ini dibangun, aku dan keluargaku tinggal di pohon randu alas, yang kemudian ditebang dan dijadikan rumah ini” “…ohhh jadi kamu yang membuat penghuni rumah ini gantung diri, dan anak-anak yang minum miras kemarin mati ?” “ iya…tak akoni, karena ini rumahku, aku tidak rela rumahku dijadikan tempat yang tidak baik” “terus, kena apa sampeyan berpura-pura menjadi anak-anak malang yang kemarin meninggal karena pesta miras” kataku dengan keras. “ kasihan anak-anak itu, dikira jadi arwah yang penasaran” “…supaya omah ini tetap kosong, dan tidak ada yang berani menempati” kemudian dilanjutkan dengan sapuan keras tangannya yang sebesar tiang telpon itu kearahku. Aku yang sudah waspada dari tadi, tangsung berkelit dengan langkah segitiga yang kukuasahi dengan baik, serangan itu menimpa ruang kosong. Genderuwo itu makin marah. “duuer…!!! Grobyakkkk…!!!! Prakkkk!!!, begitulah suara-suara yang kami timbulkan berdua. Beberapa kali sabetannya mengenai diriku, terasa berat dan bagai diguncang puluhan pukulan Tyson rasanya. Karena merasa semakin tersudut, akhirnya aku terpaksa mengeluarkan jurusan andalan, kakiku merendah, siku lenganku hampir menyentuh lantai, dan hup dibarengi dengan seruan Allah Akbar….!!! Kakiku lurus menghantam perutnya, kemudian dengan gerakan menggunting tumitku menyetuh dengan keras dagunya. Genderuwo itu terlempar “ammmmpunnnn panaaasssss, kapokkkkk…!!!! Genderuwo itu sambat-sambat minta tolong. Aku langsung berdiri tegak dengan posisi siaga “ kalau sudah kapok, malam ini juga aku minta kamu pergi dari rumah ini, bawa anak isteri dan semua kerabatmu, bila tidak jadi kubikin hancur lembur dengan ayat Kursi dan qulhu geni ini “ ancamku. “ingat, manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna”…”hiya…hiya aku mohon ampun, aku sudah kapok tidak akan mengganggu lagi” . Malam itu juga dengan dibarengi suara seperti angin ribut genderuwo itu pergi dari rumah itu. Diluar ternyata sudah penuh bapak-bapak yang bersiaga, namun tidak ada yang berani mendekat. Menurutnya pertempuranku dengan genderuwo penunggu rumah kosong itu berlangsung sangat seru, suaranya kayak bumi yang diguncang gempa. Aku kemudian duduk terfukur, bersyukur kehadirat Allah SWT di pojok rumah itu, mengatur nafas dengan irama segitiga sambil mengusapi tanganku yang matang biru terbentur perabotan tadi di dalam. Sementara banyak warga yang kemudian memberikan minum dan juga memapahku pulang ke rumah.

Demikian ceritaku ketika terpaksa harus megeluarkan ilmu pencak silat perisai diri warisan leluhurku, untuk mengusir genderuwo liar yang mengganggu ketenangan warga di kompleks perumahanku. Rumah itu sendiri sekarang sudah aku beli, dan kupergunakan sebagai sanggar silat bagi adik-adik karang taruna yang ingin mempelajari sebagai sarana untuk menyegarkan tubuh dan juga sebagai alat bela diri.

source http://tinyurl.com/pk8rxqw

Minggu, 27 Juli 2014

Cerita dan Misteri di rumah sakit


 Ini adalah cerita dari temen ku dan seorang tukang siomay
(dia cerita ke bapakku, jadi aku dapet ini cerita dari bapakku).

cerita yang pertama :

Disebuah rumah sakit di kota bogor waktu itu ceritanya ada seorang bapak-bapak yg lagi sakit..
Nah istrinya niat dari rumah mau jengukin suaminya itu.
Tapi di perjalanan istrinya kecelakaan
Dan meninggal di tempat
Nah selanjutnya mayat si istri di bawa ke rumah sakit sama seperti rumah sakit tempat suaminya di rawat.

Pada saat itu kejadiannya malam hari..
Keluarga korban meminta pihak rumah sakit tidak mengotopsi atau membersihkan mayat itu dulu sampai besok pagi
Nah mulailah keganjalan terjadi
Saat jam 2 pagi di kamar si suami..
dia di temani 2 orang rekannya

Nah tiba-tiba pintu kamar inap itu di ketuk
Dan saat di buka sesosok pocong terlihat dengan tampang hancur dan kafan berdarah-darah
juga kucel masuk dan berdiri di samping si pasien sambil membelai-belai rambut si pasien
Pasien pun sontak kaget dan langsung bangun menanyakan "siapa kamu?"

Dan pocong itupun menjawab "saya yang di bawah" setelah itu dia pergi nembus pintu
Di kejar pula sama 2 rekan yg tadi nungguin si suami tapi sudah hilang duluan
Pas paginya di ceritain tuh semua ke suster yang ada dirumah sakit itu.
di duga pocong itu adalah istrinya si pasien.

 http://tinyurl.com/mk4sg3d

RUMAH SAKIT ANGKER

Dering jam beker yang terletak di atas meja kamar tidurku berdering.
Tanda peringatan bahwa suamiku harus minum obat yang telah diresepkan
dokter padanya. Aku selalu tertib merawat suamiku yang berbaring
terkena penyakit asma. "Pak, bangun dulu Pak!, obatnya saatnya diminum"
pintaku pada suamiku. Aku menjadi kaget, ternyata suamiku tidak
sadarkan diri. Jam dua malam itu aku segera membangunkan kedua
anakku. "Mas Anto, Dik Ani.... bangun dulu nak, bapak perlu bantuanmu!" .
Kedua ankku terus bangun
"Ada apa Ma?" tanya keduanya
"Telponkan petugas ambulance Rumah Sakit Daerah Ponorogo ya!, bapak
butuh pertolongan segera"
"Iya Ma" jawab anakku singkat
Aneh!, hanya berselang kurang lebih lima menit mobil yang aku butuhkan
itu sudah tiba di depan rumahku.
Padahal jarak antara Pulung desaku,
dengan RSUD Dr. Hardjono ada kurang lebih dua puluh kilo lebih. Aku
terdiam sedikit tercengang. Tapi mau bagaimana lagi, aku disambut dengan
ramah oleh dua orang suster dan seorang sopir yang masih muda.
"Mari Bu, silahkan dampingi Bapak di belakang. Infusnya sudah saya
pasang. Ibu akan ditemani dua orang suster di belakang"
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, terasa aku melihat yang wajar
melihat pemandangan di sepanjang jalan Pulung Ponorogo.
Dua orang
suster yang menemani aku tercium parfum yang harum sekali. Wajahnya
cantik jelita. Rambutnya semampai panjang. "Wah, seandainya dia masih
bujang bakal aku jodohkan dengan Anto anakku.." batinku, tapi aku nggak
berani mengungkapkan kata-kata padanya.
Tidak beberapa lama aku sudah sampai di ruang UGD. Disana saya segera
mengurus administrasi di loket rawat inap. Dua orang suster dan sopirnya
mengantar aku di sebuah ruangan yang masih asing bagiku. Kira-kira dari
UGD ke arah bagiun timur. Aku melewati lorong-lorong yang ramai. Aku
melihat banyak pasien-pasien yang ditunggui oleh kerabatnya.
Suamiku
segera masuk di ruang yang saya lihat bangunan lama atau bangunan
kuno.Sepertinya bangunan rumah sakit peninggalan Belanda. Aku melihat
kok ada beberapa dokter berwajah bule di sana. Terus ada beberapa
pasukan tentara Belanda yang keluar masuk bangsal. Aku terdiam. Aku
cubit kakiku... jangan-jangan aku bukan manusia lagi. Aku terdiam seribu
bahasa.
"Bu, silakan masuk , suami ibu sudah berada di kamar Anggrek, dan tas ibu
sudah kami simpan di lemari"
"ooh...oh...iya suster" aku terkejut dan terheran-heran...."Padahal tas saya
tadi aku cangking, lho kok sudah mereka bawa ya?"
Dalam suasana keheranan yang sangat luar biasa, aku segera memasuki
kamar, tempat suamiku dirawat.
Aku merasakan kamar yang ditempati
suamiku terlihat luas dan bersih. perawat-perawatnya silih berganti
berdatangan memberikan perawatan. "Ibu dari Pulung ya?" tanya dokter
bule kepada saya. "Ya Dok..." "Suami ibu tidak apa-apa kok. Dan nanti perlu
dirawat tiga hari saja kok. Untuk itu saya minta ibu dan keluarga tidak
usah keluar dari ruangan ini. Ibu akan dilayani oleh suster semuanya.
Makanan dan minuman sudah tinggal ambil, cukup untuk hidup tiga hari..."
Selama tiga hari, kami dimanjakan dengan pelayanan yang sangat
istimewa. Suamiku nampak semakin sehat. Demikian juga anak-anakku
mereka nampak santai tanpa terlihat beban dari raut wajahnya.
"Bu, sudah
saatnya ibu bisa pulang. Ini surat rujukan dari dokter, silakan diurus di
ruang administrasi" pinta suster jelita yang selama ini merawat suamiku,
dan melayani semua kebutuhanku di rumah sakit Dr. Hardjono
"Anto, pergilah ke kantor administrasi di depan sana ya?, habis berapa
biaya perawatannya"
"Iya Ma"
Sesampai di depan anakku tekaget-kaget. Semua loket untuk pembayaran
administrasi nampak kosong semuanya. Demikian juga, ternyata rumah
sakit tersebut sudah tidak ada penghuninya sedikitpun. Di sana ada tulisan
' Rumah Sakit Dr. Hardjono sudah pindah sejak September 2012 di Paju
Ponorogo, semua layanan Kesehatan dipindahkan di sana!'
Bulu kudukku merinding. Aku dan keluargaku tercengang. Kamar yang
tadinya luas dan indah, lengkap dengan fasilitas yang menakjubkan, kini
terlihat nyata lengang, kumuh, penuh sarang laba-laba, tidak terawat, dan
tanpa perawat.
"Lho ibu dari mana ini?" tanya satpam tiba-tiba
"A...aa..anu Pak, saya rawat inap di Ruang Anggrek!"
Satpam juga tercengang setengah mati. Bulu kuduknya merinding,
mulutnya seakan terkunci rapat sulit mengucapkan kata-kata...
Aku dan
keluarga bergegas, malu. Tapi aku bersyukur karena suamiku terlihat sehat
wal afiat. "Ma!, terus siapa ya yang merawat kita tadi?". "Ah nggak tahu
Pa... sudahlah, kita pulang dulu" kataku sambil meninggalkan RSUD Dr
Hardjono yang lama.

Source  http://tinyurl.com/k5txk2u

Misteri Hantu Rumah Sakit di Balikpapan

Misteri Hantu Rumah Sakit di Balikpapan
Sebuah Rumah Sakit di Balikpapan menyimpan segudang cerita hantu menyeramkan yang membuat bulu kuduk berdiri. Tak hanya para pembesuk dan masyarakat yang berkunjung, petugas RS sekalipun tak lepas dari teror makhluk halus rumah sakit tersebut. Nama Rumah Sakit ini dirahasiakan karena tidak ingin tersandung kasus PRITA. Tidak ada maksud sedikitpun untuk menjelek-jelekkan nama instansi tertentu. Kisah misteri ini di-share ulang bagi pembaca yang menaruh perhatian pada topik hantu dan misteri terutama cerita hantu di Rumah Sakit.
Misteri Hantu Rumah Sakit di Balikpapan
Jika anda punya cukup nyali, cobalah sesekali melintas di lorong-lorong gelap Rumah Sakit berhantu ini. Dari sejumlah pengakuan pengunjung maupun petugas rumah sakit, bulu kuduk mereka pasti merinding jika menyusuri lorong tersebut di malam hari.
Seorang sekuriti, Memes misalkan, dia mengaku mengalami langsung kejadian seram saat melintas di lorong dekat tangga lama yang menuju ke arah kamar mayat rumah sakit.
“Waktu itu aku sift malam lewat lorong-lorong rumah sakit buat ngecek pintu dan pagar apakah sudah terkunci atau belum,” kata Memes mengenang peristiwa yang dialaminya.
Sesampainya di ujung lorong ruang ICU, Memes bermaksud untuk santai sejenak.
Suasananya begitu hening, angin malam berhembus sepoi-sepoi namun kondisi cuaca tergolong panas. Tiba-tiba dari ruang ICU keluar sesosok bayangan putih. “Aku penasaran, kok ada bayangan putih lewat,” ungkapnya.
Jarak antara bayangan itu dengan dirinya, aku Memes, hanya sekira 15 meter. Dia lantas terdiam, diperhatikannya betul-betul sosok seorang wanita dengan baju serba putih yang berhenti di lantai lorong rumah sakit. Wanita berambut panjang sampai ke punggung itu rupanya tidak jalan seperti orang normal, melainkan ngesot di lantai. “Aku ndak yakin itu suster kah atau bukan. Pokoknya pakai baju serba putih,” tutur Memes sembari mengusap lehernya.
Mimik wajah Memes yang semula serius, kini berubah pucat pasi. Kedua tangannya tampak bergetar. “Bulu kudukku berdiri mas, kalau ingat pengalaman itu,” ujar dia.
Dia memastikan jika sosok wanita di lantai itu merupakan hantu kesot. Pengakuan Memes maupun sejumlah pengunjung Rumah Sakit, hantu kesot itu sering kali terlihat di sudut-sudut rumah sakit. Lokasi yang paling sering di tangga lama yang digunakan untuk mengangkut jenazah.
“Kadang juga terlihat hantu kesot naik dari arah kamar mayat, lewat tangga itu (tangga lama, Red), ruang ICU dan tangga menuju kamar mayat jaraknya memang cukup dekat,” ucapnya.
Memes mengungkapkan, terkadang jika ada orang meninggal di Rumah Sakit, terdengar suara keras seekor burung.
“Jika suara burung di atas ruang ICU berarti ada yang akan meninggal di ruang itu, kalau di ruang rawat inap atau di UGD begitu juga sebentar lagi ada yang meninggal,” kata Memes dengan nada penuh keyakinan.
Untuk menghindari gangguan makhluk halus, Memes menyarankan, saat hendak masuk rumah sakit mengucapkan kata salam. “Bukan hanya di rumah sakit dimanapun perlu mengucapkan kata salam, juga dilarang membuang sampah di sembarang tempat dan saat malam jika ingin melewati lorong sebaiknya berdua,” sarannya.
Setelah diteror hantu kesot, sekuriti rumah sakit ini mengatakan, tiap kali patroli dirinya ditemani seorang temannya.
Walaupun berdua, tetap saja bayangan putih wanita dalam posisi ngesot tampak. “Asalkan tidak ganggu ndak apa-apa, saya kan cuma menjalankan tugas menjaga keamanan di rumah sakit,” pungkas pria bertubuh tegap ini..

Source http://tinyurl.com/kt7a8s4

Minggu, 11 Mei 2014

Cerita dan misteri Jejak Birahi wanita Siliman

** Jejak Birahi wanita Siliman **

BERIKUT KISAHNYA.....
Keberadaan makhluk siluman di bumi Tuhan ini memang tidak dapat dibantah lagi. Kepercayaan atas keberadaan makhluk
gaib tersebut ternyata sudah berakar sejak zaman nenek moyang di era primitif. Dan di era terkini, para siluman sering memasuki dimensi ruang dan waktu kehidupan manusia di alam nyata. Mereka menggoda, memperdaya, bahkan ingin menguasai insan yang tidak beriman lahir dan batin.
Kisah misteri berikut ini merupakan contoh nyata dari sekian banyaknya kasus yang pernah terjadi betapa di antara
manusia dan siluman dipercaya dapat hidup bersama dengan memenuhi syarat-syarat yang telah disepakati sebelumnya.
Berikut ini sepenggal catatan hitam kehidupannya karena nyaris tergoda sesosok makhluk siluman yang dikenal
dengan sebutan siluman buaya.
Akhir Nopember tahun 2008, aku dihubungi seorang teman di Medan melalui telepon. Dia menawarkan pekerjaan yang cukup menjanjikan di ibukota Sumatera Utara tersebut. Aku yang sudah cukup lama menganggur setelah di PHK di sebuah pengeboran minyak milik asing di daerah Riau daratan cukup tertarik dengan tawaran teman itu, meskipun untuk sementara harus meninggalkan keluarga di kota Pekanbaru.
Aku dan Darwis Tanjung, demikian nama teman tersebut, dulu sama-sama kuliah di Medan pada sebuah perguruan
tinggi swasta. Begitu menyandang gelar sarjana ekonomi, aku merantau ke daerah Riau. Diterima bekerja di sana. Sementara
Darwis Tanjung lebih senang berwiraswasta, meneruskan usaha orang tuanya yang memiliki toko-toko barang antik dan kuno di berbagai kota di Sumatera.
“Untuk sementara kau tinggal saja bersama kami,” ajak Darwis ketika menjemputku di Bandara Polonia Medan.
“Bukan ingin menyombongkan diri, rumahku cukup besar di kawasan elit Perumahan Bumi Asri,” susulnya kemudian.
Di rumahnya yang cukup mewah itu, aku diperkenalkannya dengan Rasiam, perempuan cantik, berkulit sawo matang
dan kedua bola mata agak sipit tersebut menyambut uluran tanganku dengan senyum.
Hari pertama aku berada di Medan, Darwis nampaknya tidak ingin buang-buang waktu. Dia langsung mengajakku ke toko
barang antiknya di bilangan Kesawan dan Petisah. Berkenalan dengan petugas dan pelayan toko di sana. Kepada mereka,
Darwis menyatakan bahwa aku akan diangkatnya sebagai manajer pemasaran merangkap wakil pemilik usahanya.
Pagi itu ketika sarapan, Darwis memberitahukan bahwa untuk selama beberapa hari dia tidak berada di rumah,
karena sore nanti dia ikut rombongan dari kantor Dinas Purbakala ke Jakarta guna membahas kasus-kasus pencurian bendabenda kuno peninggalan sejarah dengan instansi terkait.
“Selama aku tidak berada di tempat, kau tangani saja semua urusanku di toko-toko Kesawan dan Petisah tersebut!”pesannya
ketika aku mengantarkannya ke bandara Polonia, “Namun kalau ada hal-hal yang rumit, jangan segan-segan menghubungiku
melalui handphone!”
Malam pertama tinggal berduaan dengan Rasiam sungguh menggelisahkan. Apalagi selama ini sejak aku tinggal bersama
mereka, aku dan istri teman ini sangat jarang berkomunikasi. Rasiam merupakan tipe wanita pendiam dan terkesan agak misterius. Saking misteriusnya, seharian dia suka berkurung dalam kamar saja kendati suaminya sering mengajaknya ngobrol bersama-samaku pada waktu-waktu senggang.
Usai makan malam yang disediakan oleh petugas katering, aku mengisi waktu duduk di ruang tamu dengan membaca koran sore. Malam mulai larut ketika merasakan mataku berat, mengantuk. Setelah menutup jendela dan pintu serta menguncinya, aku menyeret kakiku melangkah masuk kamar tidur yang bersebelahan dengan kamar tuan rumah.
Baru saja tubuh kubaringkan di tempat tidur, tiba-tiba aku seperti mendengar seseorang mengeluh dan mengaduh-aduh.
Aku segera bangkit untuk memastikan dari mana datangnya suara tersebut. Lalu menduga bersumber dari kamar sebelah,
kamar tidur pasangan suami istri tersebut.
Sejenak aku tercenung. Maju mundur niatku untuk datang menemui istri teman itu ke kamarnya guna menanyakan apa yang
dialaminya. Kiranya kurang elok mendatangi seorang perempuan yang sudah bersuami seorang diri dalam kamar tidurnya. Tapi karena suara mengeluh dan mengaduh terdengar semakin keras, aku menjadi tidak tega juga. Lalu segera menghambur
masuk ke kamarnya. Ternyata perempuan ini memang membutuhkan pertolongan, karena di pembaringan tubuhnya kulihat
menggelinjang gelinjang menahan kesakitan.
Aku sudah bersiap-siap untuk menghubungi dokter ketika telepon di ruang tamu berdering. Langsung kuangkat,
ternyata datang dari Darwis di Jakarta. “Maaf Andi, ada yang terlupa, aku minta tolong agar malam ini dan seterusnya
ketika aku tidak di rumah, menyiram dan memandikan sebuah patung buaya yang terbuat dari tembaga dan dibalut besi
kuningan yang berada di ruangan khusus penyimpanan barang-barang dagangan di belakang dekat dapur,” kata Darwis dari
ujung telepon itu.
Aku masih ingin menanyakan sesuatu namun hubungan pembicaraan singkat tersebut telah terputus. Meskipun masih menyimpan pertanyaan dalam hati, aku patuh saja melakukannya lalu bergegas ke tempat penyimpanan barang-barang kuno dan antik tersebut. Di dalamnya nampak beberapa jenis benda-benda berbagai bentuk berjejer merapat ke dinding tembok. Dan tepat di tengah-tengah ruangan itu kelihatan sebuah patung berbentuk buaya sepanjang lebih kurang satu meter sedang dalam posisi tiarap di lantai dan rahang ternganga lebar. Sebagaimana permintaan
Darwis, aku segera menyiram patung buaya tersebut dengan air yang tersedia dalam drum ukuran kecil di dekatnya. Ternyata bukan air sembarangan, karena aromanya berbau khas wewangian.
Aku mulai curiga teman ini sudah mempercayai hal-hal yang sifatnya klenik, apalagi ketika air mulai membasahi tubuh
patung buaya tadi, rahangnya tiba-tiba menutup. Dan yang paling aneh, bersamaan dengan itu Rasiam tahu-tahu sudah berdiri di dekatku. Memperlihatkan kondisi kesehatannya yang kembali segar bugar dan wajah yang sumringah. Artinya, aku tidak merasa perlu lagi untuk mendatangkan paramedis untuk menyembuhkannya.
“Terima kasih, Bang,” ujarnya sambil berlalu. Aku cuma bengong, terima kasih untuk apa? Lagi pula baru itu kudengar dia
berkata-kata padaku.
Paginya istri teman ini nampak semakin seksi dengan pakaian daster ringkas yang dikenakannya. Tipis, nyaris dia tanpa busana. Kemudian kami terlibat dalam obrolan yang cukup mengasyikkan di depan kaca TV. Saat itu Rasiam benar-benar mengalami perobahan drastis dalam penampilan, tingkah dan perilakunya. Yang semula pendiam dan agak terkesan angkuh menjadi seorang wanita yang senang ngobrol dan rendah hati. Bahkan kuanggap terlalu over acting mengumbar tubuhnya di hadapan pria yang bukan muhrimnya.
Kemudian obrolan beralih seputar hubungannya dengan Darwis, yang menurutnya tidak serasi. Dia mengatakan
hidupnya bersama pria itu kurang berbahagia karena tidak pernah menikmati hubungan seks yang sempurna. Kata demi
kata dan kalimat demi kalimatnya terdengar sendu dan memprihatinkan. Ibarat orang yang sudah kalah sebelum bertempur. Aku menjadi trenyuh menyimaknya, karena kasus suami istri seperti ini memang sering terjadi. Bagi wanita kemewahan materi bukan segala-galanya, kalau tidak diimbangi dengan kepuasan batin dalam berhubungan badan.
“Bang…..” pelan Rasiam memanggil.
“Hmmm…..ada apa?” spontan lamunanku buyar.
“Mau menolong saya?”
“Menolong bagaimana?” tanyaku sambil memandang wajahnya yang tiba-tiba kuyu dan lesu.
“Anu, Bang….”
“Anu apa?”
“Abang kan sudah lama berteman dengan suamiku?”
“Ya, kenapa?”
“Jadi kalau abang saya ajak tidur, dia tidak akan marah, bukan?”
“Gila kamu, tentu saja dia marah besar, meskipun dia teman baikku!” jawabku agak emosional. “Dalam ajaran agama dan kode etik sosial hal itu sangat terlarang, dan akan menjahanamkan manusia ke lubang
neraka!” susulku sedikit mengutip ceramah ceramah agama yang sering aku dengar.
Perempuan cantik di depanku menyeringai.
“Tapi saya bukan manusia,” ujarnya kemudian masih nyengir. Bersamaan dengan itu aura mistis menghalangi pandanganku.
Aku masih terperangah ketika muncul kekuatan gaib yang menyeretku melangkah membuntutinya masuk ke kamar.
Entah bagaimana awalnya, tahu-tahu aku sudah menggeletak berbaring di sebelah Rasiam yang sudah dalam keadaan telanjang bulat. Layaknya sebagai seekor singa liar yang tengah kelaparan, perempuan itu
‘menyerang’ sambil merobek-robek seluruh pakaianku hingga total bugil. Lalu kedua tangannya bergerak cepat gentayangan kian kemari bersamaan dengan desah berahinya yang tersengal-sengal.
Tak lama kemudian terasa jantungku nyaris copot dihantui ketakutan ketika bayangan anak-anak dan istriku muncul
dalam fantasi halusinasi. Mereka berteriakteriak berteriakteriak berusaha mencegah diriku terhindar
dari perbuatan terlaknat ini. Spontan aku melepaskan tubuhku sebelum senjata pamungkas milikku berperan aktif. Dalam
waktu bersamaan gairah seksualku menurun ke titik nadir, alat vitalku menjadi loyo dan melempem. Begitu tersadar secara utuh,
aku cuma mampu terpana. Sadar, bahwa sebelumnya aku telah dikuasai energi gaib dari luar yang menyebabkan diriku
kehilangan akal sehat. Lupa Tuhan, lupa dosa, dan lupa pada keluarga. Dalam hitungan detik kemudian aku menyaksikan penampakan yang aneh dan menyeramkan. Kulihat perempuan cantik ini bangkit dari pembaringan. Perlahan-lahan
kepalanya berubah wujud menjadi kepala mirip dengan bentuk kepala seekor buaya dengan rahang terbuka lebar.
Pada bagian wajahnya bersisik yang berwarna hijau kehitam-hitaman tersebut
tidak terlihat lagi profil Rasiam sebagai wanita cantik, kecuali mulai batas leher ke bawah masih nampak sebagai organ tubuh
perempuan telanjang. Kini taring-taring giginya yang runcing dan tajam serta berkilat-kilat terdengar
berbunyi, berdetak-detak, layaknya ingin mengunyah-ngunyah organ tubuhku yang saat itu masih dalam keadaan bugil.
Aku coba menjauh, namun makhluk misteri yang berwujud setengah manusia dan setengah hewan tersebut lebih cepat
beraksi. Kedua tangannya yang masih berbentuk manusia segera menjangkau ke depan, dan melalui kekuatan yang diluar
dugaanku, melemparkan tubuh telanjangku hingga melayang-layang di udara yang kemudian meluncur tercampak ke luar
kamar melalui jendela yang tengah terbuka. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.
Begitu siuman dan tersadar, yang pertama kali kulihat adalah wajah Darwis Tanjung. Temanku ini menatapku dengan
wajah prihatin.
“Maaf, karena selama ini aku ingin selalu menutup-nutupi masalah pribadiku ke kamu, Andi…….sehingga kau nyaris saja menjadi korban!” ujarnya dengan nada penyesalan.
Selanjutnya Darwis berkisah, bahwa beberapa bulan yang lalu dia pernah membeli sebuah patung buaya kuno dan
terkesan antik yang dimiliki oleh seorang warga desa dekat kota Sibolga Tapanuli Tengah. Konon patung buaya tersebut
ditemukan si warga di pinggir pantai laut dan menjualnya dengan harga yang pantas pada Darwis yang kebetulan sedang mencari barang barang antik di daerah itu. Lalu memboyongnya ke Medan.
Beberapa orang kolektor benda-benda kuno ingin membelinya dengan harga bervariasi hingga sampai milyar. Bahkan
seorang turis dari mancanegara ingin menawar hingga 10 milyar rupiah. Dan Darwis sudah bersiap-siap menjualnya
dengan harga tertinggi ketika malamnya dia bermimpi didatangi seorang pria tua mengenakan sorban dan jubah berwarna
merah tua.
Orang tua tersebut melarang Darwis menjualnya, dan menyuruh agar patung buaya itu pada waktu-waktu tertentu
disiram dengan air kembang tujuh rupa. Setelah beberapa kali melakukan arahan pria tua dalam mimpi tersebut, hari itu seorang perempuan cantik datang bertamu ke rumah Darwis. Sang tamu mengaku pemilik patung buaya tersebut, dan meminta agar Darwis mengembalikannya. Sebaliknya kalau ingin memilikinya, si perempuan cantik yang mengaku bernama Rasiam tersebut minta agar Darwis menikahinya secara diam-diam dan rahasia.
“Karena aku memang belum berkeluarga, pemilik patung buaya itu kunikahi dengan segala senang hati. Kami
menikah diam-diam dan secara rahasia karena calon istriku tersebut tidak memiliki identitas diri yang jelas. Tak punya KTP dan mengaku hidup sebatang kara” lanjut Darwis berkisah.
Menurutnya, Rasiam merupakan wanita yang ‘seks maniak’ yang kemudian hari diketahui dia adalah sosok perempuan
siluman. Tegasnya dari komunitas siluman buaya.
Setelah menyimak penuturan kisah Darwis, cukup lama aku termenung saja. Apalagi setelah dia mengatakan, bahwa
Rasiam sudah menghilang bersama-sama patung buaya itu. Aku memutuskan untuk pulang ke Pekanbaru karena sangat trauma atas kejadian menyeramkan yang kualami.
Siapa tahu perempuan siluman buaya yang seks maniak tersebut kembali lagi ke rumah teman ini, ingin melampiaskan nafsu
birahinya yang gagal menguasaiku hari itu.
Seminggu setelah tiba di Pekanbaru, aku masih merasa seperti orang linglung. Kepada istri, aku mengatakan bahwa pekerjaan di Medan kurang sesuai dengan bakat dan pendidikanku, sehingga memutuskan untuk berhenti. Pengalaman mistis yang kualami bersama perempuan siluman buaya sengaja kututup rapat-rapat, biarlah hal itu kuanggap
sebagai sepenggal catatan hitam dalam sejarah hidup.
Namun melihat keadaanku begitu kembali ke Pekanbaru seperti mengalami amnesia, istriku kemudian segera
membawaku berobat secara alternatif. Pakar kejiwaan yang menguasai masalah supranatural mengatakan diriku mengalami
traumatis karena pernah mengalami hal-hal yang sifatnya mistis dan magis. Cukup lama
juga diriku diterapi hingga kembali normal seperti semula.
Beberapa bulan kemudian, aku baru mendapat kabar, bahwa temanku Darwis Tanjung tewas dalam kecelakaan lalu lintas
di jalur perlintasan kereta api. Kejadian itu sehari setelah aku berada kembali di
Pekanbaru.
Rumah gedung mewahnya di perumahan Bumi Asri dikabarkan terbakar, ludes menjadi abu. Toko barang antik
almarhum di bilangan Kesawan dan Petisah menjadi rebutan dan sengketa dari para
ahli waris yang tidak jelas.