Kisah Pelukis Arwah Si Manis Jembatan Ancol

Kisah Pelukis Arwah Si Manis Jembatan Ancol

Dirja atau juga dikenal dengan panggilan Jaja, dikenal sebagai pelukis arwah orang yang telah meninggal. Aneh tapi nyata, namun  begitulah faktanya.

Sepintas yang dilakukan oleh Dirja, adalah sesuatu yang tak masuk akal.  Ia mengatakan bahwa hasil guratannya bisa diperlihatkan pada yang pernah melihat sosok tersebut, semasa hidup, dalam mimpi, dan peninggalan foto, untuk mengecek kebenarannya.

Dari sekian hasil sketsa, terdapat guratan para almarhum tokoh-tokoh Islam yang sudah ratusan tahun meninggal. Serta ada juga lukisan arwah yang belum begitu lama meninggal, pun juga ada lukisan seorang wanita korban pembunuhan, dan lain sebagainya.

Tentang pembuatan lukisan penghuni alam lain, bapak 50 tahun ini mengungkapkan melakukan dalam waktu tidak begitu lama.

“Kalau hanya untuk membuat sketsanya kurang lebih sekitar 5 menit, tapi kalau dihalusin jadi semacam lukisan, bisa sekitar 20 menitan,” kata Dirja yang tinggal di komplek perumahan Taman Adiyaksa, Tigaraksa,  Tangerang, Banten.

Ia menambahkan, untuk membuat sketsa arwah, terkadang ada kendala dengan prosesi pemanggilan. Sebab, ada kalanya yang diundang belum bisa hadir, sehingga dibutuhkan waktu khusus.

Namun, jika yang diundang dari kalangan gaib atau bangsa jin yang biasa, semisal khodam dan sejenisnya, dalam pengalaman Jaja, tidak terlalu butuh waktu khusus.

Untuk membuktikan kebenaran sketsa atau lukisan sosok arwah yang dibuatnya, bisa dicocokkan dengan foto yang bersangkutan, itu pun kalau ada. Kalau tidak meninggalkan foto, bisa cari saksi hidup yang pernah melihat sosok almarhum semasa hidupnya.

“Dengan cara seperti itu, kita fair. Jadi bisa dibuktikan langsung kebenaran sketsa yang saya buat. Kalau sama, katakan sama, kalau tidak, katakan tidak," kata dia.

Lukisan Dirja dapat mengungkap misteri wajah leluhur yang dituangkan ke dalam bentuk gambar. Hal ini sangat membantu yang tidak punya foto leluhur. Daya metafisis Dirja dapat juga menguak misteri penyebab kematian seseorang yang terbilang misterius, seperti yang tertuang dalam catatan sketsa seorang wanita.

Di bawah sketsanya, selain diberi keterangan jam hadir dan pembuatan sketsa si arwah, juga dilengkapi dengan keterangan, bahwa ia mati dengan cara dicekik. Walau tentu saja, untuk yang ini dibutuhkan bukti forensik sebagai penguat data dan fakta.

Dirja menceritakan, kemampuannya dapat membuat lukisan arwah, bermula dari peristiwa yang tidak ia duga-duga. Pada waktu itu, sekitar pertengahan tahun 2003, saat ia masih bekerja di kapal pesiar, ia sempat ditemui oleh seorang wanita cantik, yang kemudian ia mengaku bernama Mariam, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Si Manis Jembatan Ancol.

“Saat itu, kapal tempat kami bekerja tengah bersandar di Ancol. Terus saya iseng-iseng beranjak ke gladak untuk duduk istirahat. Tiba-tiba muncul seorang wanita cantik mengenakan kain sari berwarna hijau,” ucap dia.

Penasaran, siapa wanita misterius itu, Dirja menanyakan siapa namanya. Dengan dingin wanita itu mengaku bernama Mariam, dan ia juga mengaku sebagai penjaga Ancol dan sekitarnya.

Melihat wanita yang tak biasa itu, entah dari mana inspirasinya, tiba-tiba Dirja muncul keinginan untuk membuat sketsanya, padahal ia tidak punya keahlian dalam hal itu. Ia pun lalu menawarkan pada Mariam.

Mariam pun mengiyakan. Pak Jaja yang memang biasa membawa buku dan bolpoin untuk mencatat pengeluaran barang-barang dari kapal itu, langsung membuat sketsa wajah Mariam dengan kertas di tangannya tersebut. Begitu cekatan ia membuat sketsa dan tangannya seperti ada yang menuntun.

Tak lama kemudian, sketsa Si Manis Jembatan Ancol itu rampung dibuat yang diiringi oleh keheranan Dirja sendiri, kenapa ia tiba-tiba bisa membuat sketsa. Dan, bersama itu Mariam berpesan agar sketsa itu jangan sampai dikomersialkan, untuk kemudian ia pun menghilang.


Source http://tinyurl.com/zsk9hxp

Asal mula kuntilanak

Asal mula kuntilanak

Kuntilanak adalah hantu (makhluk halus) yang dipercaya berasal dari arwah perempuan yang mati ketika gagal melahirkan dan bayinya belum sempat keluar, atau wanita yang meninggal dunia dalam keadaan hamil. Kuntilanak merupakan hantu kepercayaan masyarakat asia tenggara, terutama wilayah nusantara seperti Indonesia, Malaysia dan Singapura.Kata “kuntilanak” berasal dari bahasa melayu “pontianak” atau “puntianak” yang akhirnya disingkat “kunti”. Konon sultan Abdurrahman Alkadrie, pendiri pontianak pernah diganggu hantu ini ketika menentukan pendirian istana.

Setiap negara dan wilayah memiliki tradisi yang berbeda-beda terhadap kuntilanak. Jika di daerah jawa timur kuntilanak ini tak lain adalah bangsa “wewe” atau genderuwo perempuan. Karena dalam bahasa jawa tidak ada istilah kuntilanak, melainkan ia datang dari bahasa melayu. Sedangkan di jawa barat, sumatera. kalimantan dan malaysia, kuntilanak sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat.
Wujud Kuntilanak

Hantu kuntilanak digambarkan berwujud wanita berkerubut kain putih (mori/kain kafan) serta berambut panjang terurai yang selalu menutupi wajahnya yang buruk. Mereka mendiami tempat-tempat sepi yang jarang dijamah manusia serta tempat-tempat yang pernah digunakan orang mati secara tidak wajar. Misalnya gedung tua tanpa penghuni, tempat-tempat yang sering terjadi kecelakaan, kuburan tua yang angker, dan tempat-tempat lain yang sepi.

Kuntilanak juga sering digambarkan sebagai hantu wanita berwajah buruk yang suka tertawa terkekeh-kekeh serta menakutkan dengan penuh bercak darah pada baju putihnya.

Namun kuntilanak tidak selalu menampakkan wajah buruk, kecuali jika ia merasa terganggu. Kuntilanak terkadang menemui orang-orang tertentu dengan wajah yang sangat cantik berseri. Memang ia sebenarnya bukanlah hantu jahat. Kuntilanak dipercaya hanyalah arwah manusia yang mati saat ia gagal melahirkan ketika masih menjadi manusia dulu. Setelah berpindah alam akhirnya ia berwujud seperti itu.

Cerita Kuntilanak

Konon kuntilanak bisa melahirkan anak di dalam kubur. Dikisahkan pernah terjadi ada seorang wanita melahirkan di sebuah rumah di pinggir jalan. Kemudian ada seorang bidan yang melintas di depan rumah tersebut dan lantas ia menolongnya sampai selesai proses persalinan. Setelah itu ibu bidan melanjutkan perjalanan pulang.

Namun sesampai dirumah, ibu bidan teringat bahwa guntingnya yang ia pakai untuk menggunting tali pusar si bayi tadi tertinggal. Maka ia segera kembali ke rumah wanita melahirkan tadi untuk mengambil gunting. Tetapi setelah tiba di tempat yang dimaksud, ternyata rumah milik wanita yang bersalin tadi tidak ada, melainkan yang ada hanyalah sebuah pemakaman umum.

Dan gunting yang ia gunakan memotong tali pusar tadi ternyata tergeletak di atas batu nisan pada sebuah kuburan yang masih baru bersama sepotong kain mori. Dan kuburan tersebut ternyata adalah kuburan seorang wanita desa setempat yang meninggal dunia ketika gagal melahirkan.

Akhirnya ia melahirkan di kuburan dan ditolong oleh seorang bidan yang melintas pada suatu malam. Kain mori yang disertakan bersama gunting tersebut adalah ajimat yang dihadiahkan oleh hantu kuntilanak kepada ibu bidan yang telah menolongnya.

Source http://tinyurl.com/hkungbg

kuntilanak melahirkan di bidan desa di purwokerto

kuntilanak melahirkan di bidan desa di purwokerto

20 September 2013Kisah nyata misterialmarhum, anak, darah, fansnew.wordpress.com, hamil 7bulan, ibu bidan, kuburan, Kuntilanak, kuntilanak melahirkan, melahirkan, perempuan, tembok   

Pagi bro sist,memang agak aneh pagi-pagi gini update cerita hantu.
Walau waktu nggak pas malam jum’at,tapi ya gak apa-apa yah,.?
Kejadiannya sih kurang lebih 2 tahun yang lalu,lupa juga kapan tepatnya sebab bukan penulis juga yang ngalamin,lagian gak ngarep deh ketemu yang begituan.
Yang ada malah goyang cesar(merinding disco maksudnya).
Berita ini penulis dapat dari keluarga dikampung,dan disana waktu itu bener-bener jadi trending topic di kampungnya penulis.
Sekali lagi ini bukan hoak atau rekayasa loh,bukan juga copy paste dari blog lain loh,sumpah deh demi apapun ini nyata.

Oke langsung saja
Begini ceritanya

waktu itu di desa tetangga penulis ada cewek lagi hamil dalam usia 7 bulanan.
Nah pas itu dia jatuh kepleset,gak tahu mau ngapain juga,penulis lupa waktu diberi tahu keluarga.
Nah dia langsung pendarahan gitu dan meninggal gak lama setelah itu.

Malam ketika melahirkan

gak jauh dari desa cewek yang meninggal itu ada desa lagi,dan disitu ada seorang bidan,udah cukup terkenal bidannya didaerah itu(ini juga gak jauh loh dari desa penulis,gak nyampe 1km an).
Singkat cerita waktu malam itu si ibu bidan  kedatangan orang yang mau melahirkan,yang anehnya dia datang seorang diri dan di tengah malam lagi,jam tepatnya penulis kurang tahu.
Sebelum si cewek yang mau melahirkan tadi masuk rumah,si ibu bidan tadi sempat menanyakan kepada cewek tadi,
kurang lebih begini percakapannya

Bidan = “mba datang sama siapa malam-malam begini”

cewek = ” sama suami bu”

Bidan = “nah,suaminya mana’??

Cewek = “ketinggalan bu di belakang”

Bidan =”tinggal dimana mbak??

Cewek =”disana bu(lebih lengkapnya di share dibawah)
nah tanpa pikir panjang bu Bidan nyuruh masuk cewek itu,sambil menyiapkan alat ibu bidan yang ngerasa suami si cewek koq gak datang-datang,akhirnya bertanya lagi.

Bidan = “koq suami kamu gak datang-datang”,emang tadi ngapain..?’

cewek = tadi ngambil kain yang ketinggalan dirumah.

Singkat cerita,
sicewek sudah melahirkan,dan anaknya perempuan.
Dan ibu bidan itu meminta kepada cewek itu untuk tetap di tempat persalinannya,sambil bilang

Bidan =”mba di sini dulu,saya mau cuci alat-alat dulu(bekas darah)

cewek = “iya bu’

sedang mencuci peralatan tadi,tiba-tiba ibu bidan kaget ada suara benda jatuh,lalu ibu bidan langsung menengok kearah bayi dan cewek tadi takut terjadi apa-apa,tapi apa yang terjadi dan alangkah terkejutnya ketika melihat cewek dan bayinya tadi sudah gak ada.
Aneh pikir bu bidan tadi,sebab kalaupun cewek tadi pergi lewat mana?
Lah orang pintunya dikunci semua dan kalaupun lewat pagar samping rumah juga gak mungkin,sebab tinggi banget,dan dari besi pula.
Tiba-tiba ibu bidan kepikiran dengan alamat yang cewek tadi kasih.
Nah besoknya,ibu bidan nyari alamat cewek tadi,sambil bertannya ke rumah orang tentang alamat tsb,ada yg bilang orang yang dimaksud ibu bidan sudah meninggal.tapi ibu bidan gak percaya dan masih penasaran.
Dan barulah setelah 3 kali bertanya akhirnya ketemu juga rumahnya.
Beginilah percakapannya dengan ibu yang punya rumah

Bidan = bu apa benar ini rumahnya mba ini??
(penulis lupa siapa namanya).

Ibu2 =”ya benar,emang kenapa yah mba’?

Bidan =”tadi malam anak ibu melahirkan,dan malah langsung pergi saja tanpa pamit dulu”

Ibu2 =(denang kaget dan menangis,dan sedih juga) maaf bu bidan,anak saya sudah meninggal 7hari yang lalu dalam keadaan hamil 7 bulan

Bidan = (kaget,heran,bingung)terus yang semalam siapa..?

Ibu2 = ayo bu kita ke kuburannya saja,kalau ibu tidak percaya.

Benar saja bro sist..
Ternyata nama dibatu nisan sama dengan nama cewek semalam.
Dan ibu Bidan baru menyadari kalau yang
semalam melahirkan adalah kuntilanak. :(
sebelum berpamitan pulang ibu Bidan sempat mengirim doa kepada almarhum supaya tenang dialam sana.
Note (dari penturan ibu bidan,darahnya benar-benar asli seperti manusia biasa)

anda mungkin tidak percaya,di jaman moderen gini koq masih ada yang begituan.hmm.. Terlihat konyol memang,tp ini benar-benar asli nyata.

Tempat bidannya desa  karangtengah,kec.cilongok.kab.banyumas.
Alamat almarhum desa lebaksiu,kec.cilongok,kab.banyumas.
Thanks,

Sumber http://tinyurl.com/pkbkwja

Sedang Memphoto kabut ada penampakan hantu tentara

Sedang Memphoto kabut ada penampakan hantu tentara

Beberapa penampakan yang diduga mahluk astral, sering terlihat dalam beberapa foto yang tidak sengaja dijepret. Baik itu di tempat gelap, atau di siang bolong dan penuh dengan orang-orang.

Namun tidak mudah meyakinkan orang lain, jika foto yang menampilkan penampakan hantu bukan hanya rekayasa. Terlebih saat ini banyak sekali aplikasi yang bisa membuat sebuah penampakan mirip dengan hantu.



Tetapi pria ini cukup terkejut, saat mengambil foto kabut. Pasalnya, saat fotonya tersebut berhasil diambil, ada sosok-sosok yang diduga hantu di foto hasil bidikan kameranya.

Seorang pria yang ingin mengambil foto kabut sepanjang jalan Simpang Kiri Taman Connector di Sembawang, berhasil menangkap sosok yang cukup menyeramkan.

Thomas Tan berbagi gambar yang telah diambil pada Sabtu malam, 3 Oktober lalu di Facebook. Dan dengan cepat, foto tersebut menjadi viral dan telah dibagi oleh lebih dari 1.300 pengguna Facebook.

Dia menulis, "Saya sedang berpikir untuk mengambil beberapa foto dengan kondisi kabut malam ini. Foto ini diambil di Sembawang Simpang Kiri di sekitar jam 10."

Banyak netizens yang berkomentar tentang sosok yang menyerupai tentara tersebut, sementara yang lain mengatakan mereka tampak seperti pelaut.

Salah satunya menulis, "Menarik sekali, kamera Anda dapat melihat mereka. Mereka adalah Datuk, wali sekitar sungai alias kanal."

Lalu apakah Anda percaya dengan hantu?

Cerita Misteri , Jejak Birahi Perempuan Siluman

Cerita Misteri , Jejak Birahi Perempuan Siluman

Keberadaan makhluk siluman di bumi Tuhan ini memang tidak dapat dibantah lagi. Kepercayaan atas keberadaan makhluk
gaib tersebut ternyata sudah berakar sejak zaman nenek moyang di era primitif. Dan di era terkini, para siluman sering memasuki dimensi ruang dan waktu kehidupan manusia di alam nyata. Mereka menggoda, memperdaya, bahkan ingin menguasai insan yang tidak beriman lahir dan batin.
Kisah misteri berikut ini merupakan contoh nyata dari sekian banyaknya kasus yang pernah terjadi betapa di antara
manusia dan siluman dipercaya dapat hidup bersama dengan memenuhi syarat-syarat yang telah disepakati sebelumnya.
Berikut ini sepenggal catatan hitam kehidupannya karena nyaris tergoda sesosok makhluk siluman yang dikenal
dengan sebutan siluman buaya.

Akhir Nopember tahun 2008, aku dihubungi seorang teman di Medan melalui telepon. Dia menawarkan pekerjaan yang cukup menjanjikan di ibukota Sumatera Utara tersebut. Aku yang sudah cukup lama menganggur setelah di PHK di sebuah pengeboran minyak milik asing di daerah Riau daratan cukup tertarik dengan tawaran teman itu, meskipun untuk sementara harus meninggalkan keluarga di kota Pekanbaru.

Aku dan Darwis Tanjung, demikian nama teman tersebut, dulu sama-sama kuliah di Medan pada sebuah perguruan
tinggi swasta. Begitu menyandang gelar sarjana ekonomi, aku merantau ke daerah Riau. Diterima bekerja di sana. Sementara
Darwis Tanjung lebih senang berwiraswasta, meneruskan usaha orang tuanya yang memiliki toko-toko barang antik dan kuno di berbagai kota di Sumatera.
“Untuk sementara kau tinggal saja bersama kami,” ajak Darwis ketika menjemputku di Bandara Polonia Medan.
“Bukan ingin menyombongkan diri, rumahku cukup besar di kawasan elit Perumahan Bumi Asri,” susulnya kemudian.
Di rumahnya yang cukup mewah itu, aku diperkenalkannya dengan Rasiam, perempuan cantik, berkulit sawo matang
dan kedua bola mata agak sipit tersebut menyambut uluran tanganku dengan senyum.

Hari pertama aku berada di Medan, Darwis nampaknya tidak ingin buang-buang waktu. Dia langsung mengajakku ke toko
barang antiknya di bilangan Kesawan dan Petisah. Berkenalan dengan petugas dan pelayan toko di sana. Kepada mereka,
Darwis menyatakan bahwa aku akan diangkatnya sebagai manajer pemasaran merangkap wakil pemilik usahanya.
Pagi itu ketika sarapan, Darwis memberitahukan bahwa untuk selama beberapa hari dia tidak berada di rumah,

karena sore nanti dia ikut rombongan dari kantor Dinas Purbakala ke Jakarta guna membahas kasus-kasus pencurian bendabenda kuno peninggalan sejarah dengan instansi terkait.
“Selama aku tidak berada di tempat, kau tangani saja semua urusanku di toko-toko Kesawan dan Petisah tersebut!”pesannya
ketika aku mengantarkannya ke bandara Polonia, “Namun kalau ada hal-hal yang rumit, jangan segan-segan menghubungiku
melalui handphone!”

Malam pertama tinggal berduaan dengan Rasiam sungguh menggelisahkan. Apalagi selama ini sejak aku tinggal bersama
mereka, aku dan istri teman ini sangat jarang berkomunikasi. Rasiam merupakan tipe wanita pendiam dan terkesan agak misterius. Saking misteriusnya, seharian dia suka berkurung dalam kamar saja kendati suaminya sering mengajaknya ngobrol bersama-samaku pada waktu-waktu senggang.

Usai makan malam yang disediakan oleh petugas katering, aku mengisi waktu duduk di ruang tamu dengan membaca koran sore. Malam mulai larut ketika merasakan mataku berat, mengantuk. Setelah menutup jendela dan pintu serta menguncinya, aku menyeret kakiku melangkah masuk kamar tidur yang bersebelahan dengan kamar tuan rumah.
Baru saja tubuh kubaringkan di tempat tidur, tiba-tiba aku seperti mendengar seseorang mengeluh dan mengaduh-aduh.
Aku segera bangkit untuk memastikan dari mana datangnya suara tersebut. Lalu menduga bersumber dari kamar sebelah,
kamar tidur pasangan suami istri tersebut.

Sejenak aku tercenung. Maju mundur niatku untuk datang menemui istri teman itu ke kamarnya guna menanyakan apa yang
dialaminya. Kiranya kurang elok mendatangi seorang perempuan yang sudah bersuami seorang diri dalam kamar tidurnya. Tapi karena suara mengeluh dan mengaduh terdengar semakin keras, aku menjadi tidak tega juga. Lalu segera menghambur
masuk ke kamarnya. Ternyata perempuan ini memang membutuhkan pertolongan, karena di pembaringan tubuhnya kulihat
menggelinjang gelinjang menahan kesakitan.

Aku sudah bersiap-siap untuk menghubungi dokter ketika telepon di ruang tamu berdering. Langsung kuangkat,
ternyata datang dari Darwis di Jakarta. “Maaf Andi, ada yang terlupa, aku minta tolong agar malam ini dan seterusnya
ketika aku tidak di rumah, menyiram dan memandikan sebuah patung buaya yang terbuat dari tembaga dan dibalut besi
kuningan yang berada di ruangan khusus penyimpanan barang-barang dagangan di belakang dekat dapur,” kata Darwis dari
ujung telepon itu.

Aku masih ingin menanyakan sesuatu namun hubungan pembicaraan singkat tersebut telah terputus. Meskipun masih menyimpan pertanyaan dalam hati, aku patuh saja melakukannya lalu bergegas ke tempat penyimpanan barang-barang kuno dan antik tersebut. Di dalamnya nampak beberapa jenis benda-benda berbagai bentuk berjejer merapat ke dinding tembok. Dan tepat di tengah-tengah ruangan itu kelihatan sebuah patung berbentuk buaya sepanjang lebih kurang satu meter sedang dalam posisi tiarap di lantai dan rahang ternganga lebar. Sebagaimana permintaan
Darwis, aku segera menyiram patung buaya tersebut dengan air yang tersedia dalam drum ukuran kecil di dekatnya. Ternyata bukan air sembarangan, karena aromanya berbau khas wewangian.

Aku mulai curiga teman ini sudah mempercayai hal-hal yang sifatnya klenik, apalagi ketika air mulai membasahi tubuh
patung buaya tadi, rahangnya tiba-tiba menutup. Dan yang paling aneh, bersamaan dengan itu Rasiam tahu-tahu sudah berdiri di dekatku. Memperlihatkan kondisi kesehatannya yang kembali segar bugar dan wajah yang sumringah. Artinya, aku tidak merasa perlu lagi untuk mendatangkan paramedis untuk menyembuhkannya.
“Terima kasih, Bang,” ujarnya sambil berlalu. Aku cuma bengong, terima kasih untuk apa? Lagi pula baru itu kudengar dia
berkata-kata padaku.

Paginya istri teman ini nampak semakin seksi dengan pakaian daster ringkas yang dikenakannya. Tipis, nyaris dia tanpa busana. Kemudian kami terlibat dalam obrolan yang cukup mengasyikkan di depan kaca TV. Saat itu Rasiam benar-benar mengalami perobahan drastis dalam penampilan, tingkah dan perilakunya. Yang semula pendiam dan agak terkesan angkuh menjadi seorang wanita yang senang ngobrol dan rendah hati. Bahkan kuanggap terlalu over acting mengumbar tubuhnya di hadapan pria yang bukan muhrimnya.
Kemudian obrolan beralih seputar hubungannya dengan Darwis, yang menurutnya tidak serasi. Dia mengatakan
hidupnya bersama pria itu kurang berbahagia karena tidak pernah menikmati hubungan seks yang sempurna. Kata demi
kata dan kalimat demi kalimatnya terdengar sendu dan memprihatinkan. Ibarat orang yang sudah kalah sebelum bertempur. Aku menjadi trenyuh menyimaknya, karena kasus suami istri seperti ini memang sering terjadi. Bagi wanita kemewahan materi bukan segala-galanya, kalau tidak diimbangi dengan kepuasan batin dalam berhubungan badan.

“Bang…..” pelan Rasiam memanggil.
“Hmmm…..ada apa?” spontan lamunanku buyar.
“Mau menolong saya?”
“Menolong bagaimana?” tanyaku sambil memandang wajahnya yang tiba-tiba kuyu dan lesu.
“Anu, Bang….”
“Anu apa?”
“Abang kan sudah lama berteman dengan suamiku?”
“Ya, kenapa?”
“Jadi kalau abang saya ajak tidur, dia tidak akan marah, bukan?”
“Gila kamu, tentu saja dia marah besar, meskipun dia teman baikku!” jawabku agak emosional. “Dalam ajaran agama dan kode etik sosial hal itu sangat terlarang, dan akan menjahanamkan manusia ke lubang
neraka!” susulku sedikit mengutip ceramah ceramah agama yang sering aku dengar.
Perempuan cantik di depanku menyeringai.

“Tapi saya bukan manusia,” ujarnya kemudian masih nyengir. Bersamaan dengan itu aura mistis menghalangi pandanganku.
Aku masih terperangah ketika muncul kekuatan gaib yang menyeretku melangkah membuntutinya masuk ke kamar.
Entah bagaimana awalnya, tahu-tahu aku sudah menggeletak berbaring di sebelah Rasiam yang sudah dalam keadaan telanjang bulat. Layaknya sebagai seekor singa liar yang tengah kelaparan, perempuan itu
‘menyerang’ sambil merobek-robek seluruh pakaianku hingga total bugil. Lalu kedua tangannya bergerak cepat gentayangan kian kemari bersamaan dengan desah berahinya yang tersengal-sengal.

Tak lama kemudian terasa jantungku nyaris copot dihantui ketakutan ketika bayangan anak-anak dan istriku muncul
dalam fantasi halusinasi. Mereka berteriakteriak berteriakteriak berusaha mencegah diriku terhindar
dari perbuatan terlaknat ini. Spontan aku melepaskan tubuhku sebelum senjata pamungkas milikku berperan aktif. Dalam
waktu bersamaan gairah seksualku menurun ke titik nadir, alat vitalku menjadi loyo dan melempem. Begitu tersadar secara utuh,
aku cuma mampu terpana. Sadar, bahwa sebelumnya aku telah dikuasai energi gaib dari luar yang menyebabkan diriku
kehilangan akal sehat. Lupa Tuhan, lupa dosa, dan lupa pada keluarga. Dalam hitungan detik kemudian aku menyaksikan penampakan yang aneh dan menyeramkan. Kulihat perempuan cantik ini bangkit dari pembaringan. Perlahan-lahan
kepalanya berubah wujud menjadi kepala mirip dengan bentuk kepala seekor buaya dengan rahang terbuka lebar.
Pada bagian wajahnya bersisik yang berwarna hijau kehitam-hitaman tersebut
tidak terlihat lagi profil Rasiam sebagai wanita cantik, kecuali mulai batas leher ke bawah masih nampak sebagai organ tubuh
perempuan telanjang. Kini taring-taring giginya yang runcing dan tajam serta berkilat-kilat terdengar
berbunyi, berdetak-detak, layaknya ingin mengunyah-ngunyah organ tubuhku yang saat itu masih dalam keadaan bugil.

Aku coba menjauh, namun makhluk misteri yang berwujud setengah manusia dan setengah hewan tersebut lebih cepat
beraksi. Kedua tangannya yang masih berbentuk manusia segera menjangkau ke depan, dan melalui kekuatan yang diluar
dugaanku, melemparkan tubuh telanjangku hingga melayang-layang di udara yang kemudian meluncur tercampak ke luar
kamar melalui jendela yang tengah terbuka. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.
Begitu siuman dan tersadar, yang pertama kali kulihat adalah wajah Darwis Tanjung. Temanku ini menatapku dengan
wajah prihatin.

“Maaf, karena selama ini aku ingin selalu menutup-nutupi masalah pribadiku ke kamu, Andi…….sehingga kau nyaris saja menjadi korban!” ujarnya dengan nada penyesalan.
Selanjutnya Darwis berkisah, bahwa beberapa bulan yang lalu dia pernah membeli sebuah patung buaya kuno dan
terkesan antik yang dimiliki oleh seorang warga desa dekat kota Sibolga Tapanuli Tengah. Konon patung buaya tersebut
ditemukan si warga di pinggir pantai laut dan menjualnya dengan harga yang pantas pada Darwis yang kebetulan sedang mencari barang barang antik di daerah itu. Lalu memboyongnya ke Medan.

Beberapa orang kolektor benda-benda kuno ingin membelinya dengan harga bervariasi hingga sampai milyar. Bahkan
seorang turis dari mancanegara ingin menawar hingga 10 milyar rupiah. Dan Darwis sudah bersiap-siap menjualnya
dengan harga tertinggi ketika malamnya dia bermimpi didatangi seorang pria tua mengenakan sorban dan jubah berwarna
merah tua.
Orang tua tersebut melarang Darwis menjualnya, dan menyuruh agar patung buaya itu pada waktu-waktu tertentu
disiram dengan air kembang tujuh rupa. Setelah beberapa kali melakukan arahan pria tua dalam mimpi tersebut, hari itu seorang perempuan cantik datang bertamu ke rumah Darwis. Sang tamu mengaku pemilik patung buaya tersebut, dan meminta agar Darwis mengembalikannya. Sebaliknya kalau ingin memilikinya, si perempuan cantik yang mengaku bernama Rasiam tersebut minta agar Darwis menikahinya secara diam-diam dan rahasia.
“Karena aku memang belum berkeluarga, pemilik patung buaya itu kunikahi dengan segala senang hati. Kami
menikah diam-diam dan secara rahasia karena calon istriku tersebut tidak memiliki identitas diri yang jelas. Tak punya KTP dan mengaku hidup sebatang kara” lanjut Darwis berkisah.
Menurutnya, Rasiam merupakan wanita yang ‘seks maniak’ yang kemudian hari diketahui dia adalah sosok perempuan
siluman. Tegasnya dari komunitas siluman buaya.

Setelah menyimak penuturan kisah Darwis, cukup lama aku termenung saja. Apalagi setelah dia mengatakan, bahwa
Rasiam sudah menghilang bersama-sama patung buaya itu. Aku memutuskan untuk pulang ke Pekanbaru karena sangat trauma atas kejadian menyeramkan yang kualami.
Siapa tahu perempuan siluman buaya yang seks maniak tersebut kembali lagi ke rumah teman ini, ingin melampiaskan nafsu
birahinya yang gagal menguasaiku hari itu.
Seminggu setelah tiba di Pekanbaru, aku masih merasa seperti orang linglung. Kepada istri, aku mengatakan bahwa pekerjaan di Medan kurang sesuai dengan bakat dan pendidikanku, sehingga memutuskan untuk berhenti. Pengalaman mistis yang kualami bersama perempuan siluman buaya sengaja kututup rapat-rapat, biarlah hal itu kuanggap
sebagai sepenggal catatan hitam dalam sejarah hidup.
Namun melihat keadaanku begitu kembali ke Pekanbaru seperti mengalami amnesia, istriku kemudian segera
membawaku berobat secara alternatif. Pakar kejiwaan yang menguasai masalah supranatural mengatakan diriku mengalami
traumatis karena pernah mengalami hal-hal yang sifatnya mistis dan magis. Cukup lama
juga diriku diterapi hingga kembali normal seperti semula.

Beberapa bulan kemudian, aku baru mendapat kabar, bahwa temanku Darwis Tanjung tewas dalam kecelakaan lalu lintas
di jalur perlintasan kereta api. Kejadian itu sehari setelah aku berada kembali di
Pekanbaru.
Rumah gedung mewahnya di perumahan Bumi Asri dikabarkan terbakar, ludes menjadi abu. Toko barang antik
almarhum di bilangan Kesawan dan Petisah menjadi rebutan dan sengketa dari para
ahli waris yang tidak jelas. (Berdasarkan penuturan narasumber yang kini berdomisili
di Pekanbaru, Riau kepada penulis)

Source http://tinyurl.com/q48p6e7

Cerita dan Misteri , Demi bayar hutang , anak sendiri di jadikan tumbal

Cerita dan Misteri , Demi bayar hutang , anak sendiri di jadikan tumbal Sesungguhnya, kemiskinan yang menimpa hidup manusia adalah bagian dari cobaan dan ujian. Karena itu kita tidak perlu merasa sedih dan putus asa. Yang terpenting adalah menghadapinya dengan penuh kesabaran dan tetap berikhtiar atau berusaha melalui jalan yang diridhoi Tuhan. Ingatlah, tak ada makhluk di dunia ini yang tidak dijamin rejekinya oleh Allah. Lagi pula Allah juga tidak akan membebani manusia dengan kesuliatan hidup yang melebihi kemampuannya. Berusaha dengan sungguh-sungguh disertai dengan doa yang khusuk kepada Allah niscaya akan diberikan jalan kelapangan dan kemudahan. Mungkin itulah yang seharusnya dilakukan oleh Sugiyanto saat dibelit kesulitan ekonomi yang memberatkan hidupnya. Tapi sayang, akalnya yang pendek, ditambah dengan keimanannya yang lemah, membuat dia nekad menemui seorang dukun sesat. Nah, dari sinilah kisah menyedihkan, sekaligus mengerikan dijalani oleh Sugiyanto. Bagaimanakah kisah selengkapnya? Kepada Misteri Sugiyanto menceritakan pengalamannya yang terjadi beberapa tahun silam itu… Pengalaman yang sangat mencekam dan seumur-umur tidak akan pernah bisa dia lupakan ini sunggu tak ingin diulanginya lagi. Bila mengingatnya, Sugiyanto jadi merinding dan ngeri bukan main. Rasa penyelasan begitu berat menyelimuti hatinya. Ucapan istigfar tak henti-hentinya terucap dari bibirnya yang kering. Ya, masih terbayang dalam ingatannya adegan sadis dan menyeramkan yang terpampang di hadapan matanya itu. Dengan mata kepala sendiri dia menyaksikan perempuan tua itu memotong-motong tubuh bayi yang masih merah, lalu dengan rakus memakan dagingnya. Dimulai dari kaki, tangan, sampai jantung si bayi yang hanya sebesar buah sawo. Begitu lahapnya dukun tua itu menyantap tiap bagian tubuhnya, sehingga tak ubahnya seperti sedang menikmati daging ayam goreng. Apakah perempuan tua itu seorang kanibal? Sugiyanto pernah mendengar tentang kasus mutilasi yang terjadi di tengah masyarakat. Tapi baru kali ini dia melihatnya secara langsung. Bahkan rasanya ini lebih sadis dan tak berperikemanusiaan. Bayangkan, daging bayi dijadikan santapan lezat. Huak! Sugiyanto sampai tak kuat melihatnya dan ingin muntah. Tapi dia mencoba untuk menahan diri dan tetap diam. Dia hanya bisa menelan rasa jijik itu. Tiba-tiba, sebuah perasaan bersalah dan berdosa menghujami dadanya. Dia sadar, apa yang telah diperbuatnya ini telah melanggar hukum negara. Lebih dari itu, mengingkari norma agama yang dianutnya.
Tapi apa boleh buat. Sebuah tuntutan, atau lebih tepatnya keterdesakan membuat dia tak punya pilihan lain. Hutangnya yang menumpuk dan telah jatuh tempo harus segera dia lunasi. Bahkan, salah seorang rentenir lewat debt kolektornya mengancam akan menghabisi nyawanya bila dia tak segera melunasi hutangnya. Dalam keadaan bingung, kacau, putus asa, dan tertekan, Sugiyanto kemudian lari kepada seorang dukun sakti yang konon bisa membantu kesulitannya. Ssebelumnya, dia memperoleh informasi dari salah seorang kenalannya bahwa di tengah hutan Sonoloyo yang terkenal angker dan wingit, tinggal seorang perempuan tua sakti bernama Nyi Saketi. Konon, siapa saja yang bertemu dengannya dan meminta bantuannya maka bakal dikabulkan. Dengan catatan, mau menjalankan segala apa yang diperintahkannya. Setelah menempuh perjalanan yang sangat berat dan melelahkan, akhirnya Sugiyanto berhasil bertemu Nyai Saketi. Perempuan tua itu tinggal sendirian di sebuah gubuk reot di tengah hutan. Begitu sampai di hadapannya Sugiyanto langsung mengutarakan maksud kedatangannya. Nyai Saketi mengangguk-angguk. Dia lalu mengemukakan sebuah syarat kepada Sugiyanto untuk membawakan bayi merah yang masih hidup atau baru saja mati. Bayi itu nantinya akan dijadikan tumbal untuk memenuhi permintaan Sugiyanto. Sebenarnya, sangat berat bagi Sugiyanto memenuhi perimintaan itu. Tapi karena tak ada pilihan lain akhirnya dia menyanggupi. Dia lalu kembali ke kota dan berusaha mencari bayi seperti yang diminta Nyai Saketi. Agar memudahkan usahanya, Sugyanto hilir mudik di sekitar rumah sakit bersalin. Sempat ada niat untuk menculik bayi yang baru dilahirkan biar lebih cepat, tapi dia mengurungkan niatnya. Dia takut ketahuan dan dipenjara. Lagi pula kasihan orang tua si bayi. Secara kebetulan di sebuah klinik bersalin ada seorang ibu melahirkan bayinya dan mati. Dengan pura-pura sebagai kerabatnya, Sugiyanto mengambil bayi yang telah meninggal itu. Dia membungkus bayi itu dengan kain dan memasukkannya dalam tas. Pikirnya, orang tua sang bayi tak akan begitu kehilangan sebab bayinya sudah meninggal. Lagi pula, Nyai Saketi sendiri tak keberatan menerima bayi yang sudah meninggal. Saat itu Sugiyanto merasa tidak bersalah. Dia kembali ke gubuk Nyai Saketi dan menyerahkan mayat bayi yang baru berusia beberapa jam itu. Tadinya Sugiyanto berpikir, mayat bayi itu hanya akan dijadikan sesaji dan kemudian dikubur. Tapi apa yang terjadi kemudian sungguh membuat Sugiyanto terkejut, tertegun, sekaligus ngeri. Bayangkan, tanpa banyak kata Nyai Saketi memotong-motong tubuh bayi yang masih merah itu dan memakan tiap potongnya seperti layaknya memakan ayam goreng. Perut Sugiyanto jadi mual dan eneg. Tapi dia hanya bisa terdiam dan tak berusaha mencegah perbuatan Nyai Saketi. Tampak mulut Nyai Saketi berselemotkan darah. Mungkin karena sudah kekenyangan, Nyai Saketi tidak memakan semua tubuh sang bayi. Dia hanya memakan tangan, kaki, dan jantungnya. Selebihnya dia meminta Sugiyanto untuk mengubur jasad sang bayi. Dengan tangan gemetar dan perasaan bercampur aduk tak karuan, Sugiyanto mengubur tubuh mungil itu. Dia masih belum mengerti, apa maksud dari tindakan Nyai Saketi dengan memakan mayat bayi. Ya, Sugiyanto hanya bisa memendam perasaan tidak mengerti itu dalam hatinya. Dia mencoba tak memusingkan hal itu. Yang lebih penting adalah realisasi dari janji Nyai Saketi yang akan membantu kesulitan hidupnya. “Lalu, bagaimana dengan permintaan saya, Nyai?” tanya Sugiyanto memberanikan diri. “Pulanglah! Apa yang kamu inginkan sudah terpenuhi. Hutang-hutangmu bakal lunas dan kamu akan mendapatkan kekayaan!” jawab Nyai Saketi. Sugiyanto sempat bingung dan tak mengerti. Tapi akhirnya dia pulang juga ke rumah. Dan ketika sampai di rumah, dia sangat terkejut mendengar kabar menggembirakan dari sang isteri. “Syukur kepada Tuhan, Mas! Aku sudah dapat hadiah seratus juta rupiah dari undian sabun! Wah, hutang-hutang kita bakal bisa dilunasi semua. Kita tak jadi gembel jalanan,” seru Haryati, girang bukan main. Sugiyanto jadi tersenyum senang. Dia yakin, rejeki nomplok yang diterima keluarganya ini, merupakan buah dari kesaktian Nyai Saketi. Dukun sakti itu benar-benar ampuh. Belum lama dia memberikan tumbal mayat bayi, permintaannya langsung terkabul. Tapi Sugiyanto tak ingin menceritakan tentang Nyai Saketi kepada isterinya. Biar ini menjadi rahasia pribadinya. Yang penting isteri dan anak-anaknya hidup bahagia. Selanjutnya hidup Sugiyanto seperti ketiban pulung. Rejeki mengalir terus tak henti. Ada saja keberuntungan yang didapat olehnya. Mulai dari dapat pekerjaan dengan posisi mapan, nembus undian, dikasih objekan basah dari teman, sampai dapat komisi jutaan rupiah. Pokoknya hidup Sugiyanto berubah seratus delapan puluh derajat. Kini dia dan keluarga tidak lagi tinggal di rumah kontrakan yang sempit dan kumuh, tapi sudah punya rumah sendiri yang besar dan mewah. Dia bisa membeli perabotan luks, ponsel, mobil, dan barang-barang serba mewah lainnya. Pendeknya, kesejahteraan keluarganya terjamin. Kebahagiaan yang dirasakan Sugiyanto menjadi bertambah ketika isterinya hamil lagi. Berarti dirinya akan memiliki anak ke-3. Tak ada perasaan risau dan khawatir kelak anaknya akan hidup sengsara, karena kekayaannya bisa untuk menghidupi tujuh turunan. Dengan penuh perhatian dan kasih sayang Sugiyanto menjaga isteri yang sedang hamil. Hingga akhirnya tiba masa persalinan. Sugiyanto menunggui proses kelahiran itu. Namun betapa terkejut dan terpukul batinnya saat anak yang ditunggu telah lahir, wujudnya sungguh sangat memprihatinkan dan mengerikan. Selain tidak memiliki kedua tangan dan kaki, jantung bayi juga mengalami kelainan. Tak terbayangkan betapa shock, sedih, dan terpukul Sugiyanto mendapati anaknya yang cacat itu. Tiba-tiba Sugiyanto teringat dengan Nyai Saketi. Jangan-jangan apa yang terjadi ini buah dari perbuatan Nyai Saketi dulu yang pernah memakan mayat bayi. Sesungguhnya, tumbal yang dimaksud Nyai Saketi tak lain adalah anaknya sendiri. Tidak terima dengan kenyataan ini, Sugiyanto segera ke hutan Sonoloyo untuk mencari Nyai Saketi. Selain ingin meminta bantuan memulihkan keadaan bayinya, Sugiyanto juga berharap Nyai Saketi menarik syarat tumbalnya. Tapi, sesampainya di tengah hutan Sonoloyo, Sugiyanto tak mendapati gubuk milik Nyai Saketi. Wanita tua itu seperti lenyap ditelan bumi. Ketika Sugiyanto bertanya kepada penduduk sekitar daerah itu, mereka tidak ada yang tahu dan kenal dengan Nyai Saketi. Dalam keadaan sedih, putus asa, dan kecewa, tiba-tiba Sugiyanto bertemu dengan seorang laki-laki tua berambut putih dan berpakaian sederhana. Orang tua itu sepertinya bisa membaca kesusahan hati Sugiyanto. “Ketahuilah, Nak. Sesungguhnya Nyai Saketi yang pernah kamu temui itu bukanlah manusia. Dia adalah penjelmaan setan. Dia tak pernah berusaha untuk membantu kesulitanmu, melainkan justru ingin menghancurkan dan menjerumuskan hidupmu. Mumpung belum terlambat, kembalilah kepada Allah dan bertobat nashuha. Gantungkan sepenuh hidupmu kepada Allah. Niscaya kamu dan keluargamu akan selamat dunia maupun akherat!” Setelah memberikan wejangan orang tua yang arif dan bijaksana itu kemudian pergi. Seperti mendapat kesadaran baru, Sugiyanto tiba-tiba menangis tergugu. Dia menyadari bahwa semua yang terjadi ini adalah buah dari kesalahannya sendiri. Sugiyanto segera bersujud dan memohon ampun kepada Allah. Dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatan sesatnya lagi. Dia akan berusaha menghapus dosa-dosanya dengan banyak melakukan amal kebajikan. Meski terasa pedih dan berat, Sugiyanto berusaha menerima kenyataan pahit ini. Dia akan tetap merawat dan memelihara anaknya yang cacat. Karena bagaimanapun anak itu adalah amanah dari Allah. Sugiyanto lalu mengajak keluarganya untuk lebih menekuni sholat dan ibadah yang disyariatkan agama. Dia tidak peduli kekayaannya akan habis guna mengobati dan merawat anaknya yang cacat. Baginya, harta duniawi sudah tidak ada artinya lagi, karena semua itu tak akan dibawa bila dirinya mati. Setelah berjalan dua tahun, anaknya yang cacat itu dipanggil Yang Maha Kuasa. Meski terasa sedih dan berat, namun Sugiyanto mengikhlaskannya. Mungkin itu lebih baik daripada anaknya harus menderita bila tumbuh dewasa. Dia sendiri tidak menyesal bila hidup keluarganya kembali jatuh miskin seperti dulu. Dia menerima dengan penuh keridhoan. Dia justru merasa bahagia dan tenang dengan keadaannya yang sekarang. Karena dalam keadaan hidup yang pas-pasan, dia bisa lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Sugiyanto kini berubah menjadi orang yang rajin dan tekun beribadah. Bila kemudian dia berkenan menceritakan pengalamannya ini kepada Misteri, semata untuk peringatan dan pelajaran agar kita semua tidak mengikuti jalan sesat yang pernah ditempuhnya dahulu. <\div>

cerita dan Misteri supir taksi mengantar 3 hantu ke TPU Karet Bivak

Peristiwa miterius ini adalah nyata adanya dan banyak saksi matanya, namun terjadi beberapa tahun lalu, tepatnya  diawali pada hari Senin, 26 Februari 2007 dan berakhir pada esok harinya, hari Selasa 26 Februari 2007 pagi waktu Subuh. Tapi hanya sedikit yang memberitakannya. Kami ingin membuat artikelnya sejak dulu, namun masih tak mendapatkan gambar atau fotonya, nah pada kesempatan kali inilah, akhirnya tulisan ini dapat kami turunkan.

Kala itu hari Selasa pagi, seluruh warga sekitar RW 06 Jl. Karet Pasar Baru Barat, Karet Tengsin, Tn. Abang, Jakarta Pusat sontak kaget bukan kepalang. Mereka digemparkan dengan suatu kejadian yang misterius, aneh tapi nyata dan penuh dengan keganjilan, terselubung oleh misteri yang tak akan terpecahkan!

Kejadian tersebut sebenarnya tak bisa dicerna oleh nalar sehat, namun semua itu kita kembalikan kepada Sang Pencipta segalanya, karena semua kejadian yang ada di jagad ini atas kehendak-Nya, tinggal kita sebagai manusia yang beriman menyikapinya secara arif, positif dan bijaksana. Karena segala kejadian di muka bumi dan diseluruh alam ini adalah atas kehendak dan kuasa-Nya.

Diawali Hujan Rintik Dini Hari

Diawali pada dini hari diwaktu itu, Senin malam Selasa di malam nan sepi, kota megapolitan Jakarta diiringi oleh hujan rintik-rintik tiada henti, tepatnya sekitar jam 00:30 seudah masuk hari Selasa dini hari, Bapak Teto Desto seorang supir taxi dari perusahaan  ’’P’’ Taxi sudah keliling kesana-kemari namun belum jua mendapat sewa/penumpang.

Ketika Bapak Teto Desto melewati Jalan sekitar Manggarai tepatnya di depan salah satu bar dan diskotik, bapak beranak empat tersebut diberhentikan oleh tiga sosok wanita cantik.

Ketika taksinya mulai menepi, Bapak Teto tidak ada firasat apapun, namanya juga sebagai pelayan jasa, ia langsung saja mempersilahkan konsumennya untuk masuk ke dalam taksinya sembari mengucapkan rutintas salamnya “Selamat pagi Non, silahkan masuk.. ingin diantar kemana ..?”.

Namun ketiga wanita tersebut diam saja tidak berkata sedikitpun. Setibanya di salah satu terowongan tepat di lampu merah, (sepertinya di Jl. Galunggung, saat berada dibawah underpass Dukuh Atas) bapak beranak empat tersebut menegur kembali dengan pertanyaan yang sama, dan akhirnya salah satu dari penumpang tersebut menjawab dengan nada terputus-putus, ’’jalan aja dan lurus’’.

Ke Arah Kuburan Karet Bivak, Jakarta.

Dinginnya udara akibat rintik hujan di Jakarta pada malam itu dan ditambah pula oleh suhu AC di dalam taxi, membuat suasana di dalamnya menjadi sedikit mencekam dan anehnya mereka tetap tak berucap satu patah katapun, tetap hening.

Karenanya, seketika itu pula entah kenapa, pak Teto juga mulai mencurigai adanya ketidakberesan dari penumpang di dalam taxi sewaannya tersebut.

Tapi apa boleh buat pikirnya, ia harus dan wajib mengantarkan sewanya ke tempat tujuan walaupun ia sendiri belum mengetahui kemana.

Akhirnya setelah taxi melintasi jalan diseberang TPU (Tempat Pemakaman Umum) Karet Bivak, salah satu dari penumpang tersebut berkata, ’’Nanti balik arah, pak…”.

Maka, pak Teto pun berbalik arah memutar (sepertinya saat berada di Jl. KH. Mas Mansyur saat mengarah ke Jl. Jenderal Sudirman, lalu berbalik arah, kini mengarah sebaliknya, ke arah Tanah Abang).

Tak lama berselang, lalu terdengar lagi ucapan, “Di depan truk masuk belok ke kiri…” (sepertinya dari Jl. KH. Mas Mansyur, masuk ke Jl. Karet Pasar Baru Barat persis sebelum Kuburan Karet Bivak, karena di Jl. Raya KH. Mas Mansyur yang berada di depan jalan itu memang ada beberapa truk yang selalu mangkal).

Otomatis pak Teto terus mengikuti ucapan wanita itu. Maka ia pun mulai memasuki jalanan kecil tanpa aspal diantara TPU Karet Bivak dan perumahan warga, namun masih pas dengan dua mobil jika saling berpapasan.

Tak lama kemudian terdengar lagi ucapan sosok itu, “belok kiri…’’, ujar salah satu penumpang. Bapak Teto belum menyadari dan tak terasa aneh, bahwa arah yang disebutkan adalah sebuah gang kecil alias jalan kampung yang berada disamping Kuburan atau TPU Karet Bivak.

Setelah salah satu penunpangnya turun, pak Teto diminta untuk menunggu sebentar, sementara dua penumpang lainnya masih berada dibangku belakang.

Lumayan lama setelahnya, pak Teto pun penasaran dan menoleh untuk melihat kedua penumpang yang masih ada dibangku belakang dan seketika itupun ia pingsan. Tiba-tiba ia sadar oleh bantuan warga saat menjelang Subuh, dan ia sudah berada di dalam sebuah pos RW di daerah itu.

Sesi Investigasi Tanya Jawab Dengan Supir Taxi, Pak Teto Desto.

Ketika ditanyakan apa yang terlihat oleh bapak Teto ketika belok menuju ke arah tersebut, bapak empat anak tersebut menjawab, ’’Ketika itu saya melihat yang ada bukan TPU, namun rumah-rumah gedongan yang mewah-mewah’’.

Kenapa Bapak bisa masuk di gang sempit seperti ini ?

Pak Teto menjawab lagi sambil masih terheran-heran, ’’Saya juga nggak ngerti mas, sebab malam itu yang terlihat oleh saya hanya rumah mewah dan megah dengan jalanan yang luas tidak sesempit ini dan yang lebih nggak masuk akal kenapa taxi yang saya bawa bisa melewati jalan setapak yang lebarnya tak lebih dari dua meter???” pak Teto balik bertanya dengan muka masih terheran-heran.

“Padahal, mas bisa lihat sendiri keempat ban mobil taxi saya itu berada diatas kanan kiri saluran got!’, tandasnya dengan muka penuh keheranan.

“Nah, sampai detik inipun, nggak mungkin saya bisa menjalankan taxi tersebut untuk keluar dari gang ini lagi dan balik kembali menuju ujung gang yang telah saya lewati semalam’’, jelas pak Teto dengan nada terbata-bata heran.

Perlu ketahui bahwa memang gang tersebut pernah admin datangi, yang hanyalah tipe jalan setapak yang luasnya memang tak lebih dari 2 meter dan dikanan kiri gang tersebut masing-masing juga terdapat saluran got yang terbuka.

Sedangkan persis disebelah kanan taxi adalah pemukiman warga yang begitu penuh sesak, dan di sebelah kirinya adalah tembok gedung sekolah SMPN 38 Jakarta.

Lalu, bagaimana ceritanya bapak bisa disuruh menunggu di sini?

’’Begini mas… ketika itu salah satu penumpang wanita tersebut menyuruh saya berhenti di sini, dia bilang ‚’’Tunggu’, ya…”  – sebagai pelayan jasa yang baik saya wajib menunggu tanpa menggerutu walaupun saat itu sekujur bulu kuduk saya mulai merinding entah kenapa”, jelas pak Teto.

Kemana arah salah satu wanita penumpang itu pergi, pak?

Pak Teto hanya menunjuk ke kuburan yang semalam tadi dia lihat sebagai rumah-rumah mewah tanpa ia bersuara sedikitpun. Mungkin dia masih tak percaya dan kaget sebab kenyataannya di pagi itu menunjukkan bahwa komplek rumah-rumah mewah tersebut adalah merupakan komplek Pemakaman Umum (Kuburan) Karet Bivak, bukan rumah-rumah mewah seperti yang ia lihat tadi malam.

Source http://tinyurl.com/pvt7kfr